Tambo, Alat Musik Tradisional Aceh yang Penuh Makna

  • 31 Des 2024 20:41 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh : Tambo terbuat dari kayu besar yang dilubangi dan dilapisi kulit sapi yang dikencangkan. Ketika dipukul, kulit tersebut menghasilkan bunyi yang keras, yang berfungsi sebagai penanda waktu shalat atau aktivitas komunitas.

Melansir laman maa.acehprov.go.id, Tambo, atau beduk, merupakan alat musik tradisional yang memiliki peran penting dalam budaya Aceh. Biasanya diletakkan di mesjid dan meunasah, tambo digunakan untuk menandai waktu shalat dan menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Selain digunakan untuk waktu shalat, tambo juga memiliki fungsi lainnya yang tidak kalah penting. Pada masa lalu, tambo digunakan untuk memanggil warga untuk berkumpul di meunasah atau mengumumkan berita penting, seperti kematian seorang anggota masyarakat.

Suara tambo merupakan bentuk komunikasi tradisional yang telah disepakati oleh masyarakat. Setiap daerah memiliki cara dan aturan tersendiri dalam menggunakan tambo sebagai alat komunikasi.

Tambo dibuat dari berbagai jenis kayu, seperti bak teue, bak iboh, dan batang enau. Kualitas suara yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh jenis kayu dan kulit sapi yang dipakai, dengan bak teue dikenal menghasilkan suara yang paling nyaring.

Ukuran tambo bervariasi tergantung pada ukuran kayu yang digunakan. Biasanya, lebar tambo sekitar setengah meter, dengan panjang yang bisa mencapai dua setengah meter.

Selain tambo kayu, terdapat juga tambo dari tembaga dan tambo mainan. Tambo mainan, atau tambo meuneuen, umumnya digunakan untuk hiburan dan bukan untuk komunikasi resmi.

Peh tambo, atau pemukulan tambo, dilakukan dengan dua tongkat pendek yang dikenal sebagai go tambo. Tongkat ini terbuat dari kayu ringan namun kuat agar menghasilkan bunyi yang diinginkan.

Di Aceh Besar, tambo dipukul dua kali untuk menandakan rapat, sementara di Pidie, dipukul tiga kali untuk mengumumkan kematian. Cara memukul tambo ini berbeda di setiap daerah.

Selama bulan Ramadan, tambo digunakan untuk menandakan waktu berbuka puasa dan sahur. Pemukulan dilakukan tiga kali: pertama untuk membangunkan, kedua sebagai peringatan, dan ketiga untuk menandai batas akhir imsak.

Pada hari raya, tambo dipukul mulai malam setelah shalat Isya hingga sore hari. Saat ini, tradisi memukul tambo pada malam hari raya sudah jarang dilakukan, kecuali pada acara pawai takbir.

Dengan kemajuan teknologi, penggunaan tambo kini semakin langka. Meskipun demikian, tambo tetap menjadi simbol penting dari warisan budaya Aceh yang perlu dilestarikan untuk generasi yang akan datang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....