Makna Dan Fungsi Banten Segehan

  • 24 Okt 2024 21:51 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar: Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Hindu di Bali, sering sekali melaksanakan atau menghaturkan Banten Segehan, nama sebuah jenis banten atau upekara yang dihaturkan pada para Bhutakala atau Bhutakali pada saat-saat tertentu, seperti hari Kliwon, Kajeng Kliwon, sebagai pelengkap banten yang sudah dikelompokkan.

Segehan ini merupakan suguhan nasi dilengkapi dengan lauk-lauk berupa bawang merah, jahe, arang dan garam, memakai sarana minuman keras berupa arak, berem dan toya anyar atau yeh ening dan api memakai api takep menggunakan sabut kelapa.

Banten Segehan secara umum dilaksanakan secara berkala yaitu saat Bhatara Siwa beryoga dan dalam fungsinya untuk melebur atau merelina, diiringi oleh para pengikutnya yaitu Bhutakala dan Bhutakali. Kepada pengikutnya inilah banten Segehan itu diaturkan untuk menciptakan terjadinya keharmonisan antara Buwana Alit dan Buwana Agung.

Pada hari kliwon merupakan saatnya Bhatara Siwa beryoga, oleh sebab itu, maka pada setiap kliwon dilaksanakan upacara masegeh. Hal tersebut mengawali dialog Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, FM 106,4 MHz, oleh penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar, Ida Bagus Made Putra ditemani oleh Ayu Badra dan Ade Mela , Kamis, (17/10/2024).

Ida Bagus Made Putra menjelaskan, Banten Segehan yang dihaturkan pada hari Kliwon yang jatuhnya setiap 5 hari sekali, yaitu dipersembahkan Segehan berwarna putih dan kuning sebanyak 6 tangkih yaitu putih 3 tangkih dan kuning 3 tangkih, yang diaturkan menjadi satu tanding dilengkapi dengan lauk pauk, diletakkan diatas nasinya berupa bawang merah, jahe, arang, dan garam, kemudian dilengkapi dengan sebuah tangkih diisi perlengkapan terdiri dari base tampelan, beras, benang, dan uang kepeng. Lalu diaturkan diatasnya diisi sebuah canang genten. Banten Segehan ini diaturkan di 3 tempat . Pertama di natar tengah pekarangan, kepada Sang Khala Bucari. Kemudian di tengah natar sanggah merajan kepada Sang Bhta Bucari. Terakhir di natar lebuh atau depan pintu keluar pekarangan kepada Sang Dhurga Bucari.

Sesuai tuntunan dalam lontar Pawarigan, bahwa pada setiap hari Kajeng Kliwon yang jatuh setiap 15 hari sekali atau kelipatan 3 dari Kliwon, patut mengaturkan Segehan kepada Sang Catur Sanak.

"Kita meyakini, setiap orang lahir ke dunia ini, pasti diikuti oleh Sang Catur Sanak. Asal mula atau asal usul tentang Segehan ini juga disebutkan dalam Lontar Agamaning Segeh dan juga Kanda Pat Bhuta. Yang mana dinyatakan bahwa dari pertemuan antara kama bang atau bibit predana dan kama petak atau bibit purusa, setelah berupa beberapa kali mengalami perubahan bentuk dalam kandungan si ibu, sehingga timbul menjadi 5 bersaudara, yakni yang pertama yaitu Lenga Prana, adalah nama calon bayi yang masih dalam kandungan, disertai dengan keempat saudaranya yaitu yang pertama yeh nyom atau air ketuban, yang kedua yaitu darah, yang ketiga lamas dan yang keempat adalah ari-ari", ujarnya.

Sebelum lahir, dalam kandungan mereka berlima mengadakan perjanjian, nanti setelah Si Lenga Prana ini lahir, akan terjadi perpisahan, sebab bila tidak ditolong oleh keempat saudaranya, Si Lenga Prana ini tidak akan bisa lahir menjadi manusia. Isi perjanjian tersebut, bahwa mereka akan saling memelihara, setelah nanti Si Lenga Prana lahir dan berubah menjadi manusia, patut menolong Sang Catur Sanak , dengan memberikan Segehan pada setiap hari Kajeng Kliwon, dihaturkan melalui Ibu Pertiwi di lingkungan tempat saudaranya ditanam.

“Di mana ari-ari tersebut ditanam, tentunya disana kita akan mengaturkan Segehan tersebut , yaitu di tengah natar pekarangan rumah. Jadi pada saat kita menanam ari-ari itu, memang tidak sembarangan tempatnya. Sesuai dengan jenis kelaminnya, ada aturannya. Setiap Desa, Kala, dan Patra pun mempunyai perbedaan-perbedaan. Ada yang kalau anaknya perempuan, ari-arinya diletakkan di sebelah kiri begitu kita keluar dari rumah, dan kalau anaknya laki-laki, diletakkan di sebelah kanan”, ungkap Putra.

Ketika ditanya bagaimana ciri-ciri Banten Segehan dan jenis-jenisnya, Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut kembali menjelaskan, berdasarkan jenisnya, Segehan dapat dikatagorikan menjadi beberapa jenis. Jenis Segehan yang pertama adalah Segehan catur warna segehan dengan 5 warna menjadi satu tanding. Alasnya dapat dipakai taledan atau daun dibentuk persegi 4, diisi 4 buah tangkih, masing-masing yang pertama diisi nasi hitam dibuat dari beras hitam atau injin, diletakkan menghadap ke utara.

Yang kedua nasi putih dibuat dari beras dimasak, diletakkan menghadap ke timur. Yang ketiga nasi merah yang dibuat dari beras merah, diletakkan menghadap ke selatan. Yang keempat yaitu nasi kuning dibuat dari beras ketan, diletakkan menghadap ke barat. Selain itu juga dilengkapi lagi dengan satu tangkih berisi perlengkapannya berupa base tampel, beras, benang dan uang kepeng. Pada masing-masing nasi tersebut diatasnya diisi lauk pauk berupa bawang merah, jahe, arang, dan garam. Di atasnya diisi sebuah canang genten. Segahan catur warna ini dihaturkan kepada Sang Khala Bucari.

Jenis Segehan yang kedua adalah Segehan Manca Warna. Segehan Manca Warna pada dasarnya sama dengan catur warna, cuman perbedaannya, merah, putih, kuning, dan hitam, dan ditambahkan lagi satu tangkih diletakkan di tengah-tengahnya berisi nasi berumbun, campuran dari keempat warna tersebut , diisi lauk pahuknya dan sebuah canang genten, diaturkan kepada Sang Bhuta Bucari, iring-iringan atau pengikut Sang Hyang Dhurga Mani atau Penunggun Karang.

Jenis Segehan ketiga adalah Segehan Putih, dihaturkan di lebuh, yaitu menghadap pintu keluar pekarangan atau menghadap ke jalan sebanyak sembilan tangkih dijadikan satu tanding, arahnya diatur ke sembilan penjuru mata angin, dilengkapi dengan satu tangkih berisi perlengkapannya. Di atas nasi, diisi lauk pauknya, kemudian diatasnya lagi, diisi sebuah Canang Genten, ditujukkan kepada sang Dhurga Bucari.

Untuk masalah pelaksanaan masegeh atau menghaturkan Banten Segehan, dapat dilakukan oleh laki-laki dan wanita dengan duduk bersila untuk laki-laki, dan matimpuh untuk wanita. Banten Segehan yang akan diaturkan, diletakkan pada tempatnya lalu dipercikkan toya anyar atau toya ening sebanyak tiga kali, fungsinya sebagai pembersihan dan penglukatan. Dilanjutkan dengan mantra mengaturkan Segehan sesuai tempatnya. Seperti di antara natar atau pekarangan yaitu dengan mantra, ih Khale Bucari, untuk di natar sanggah, ih Bhuta Bucari dan untuk dilebuh, ih Dhurga Bucari, dilanjutkan mengucapkan istilahnya kita menggunakan sesapan atau bahasa kita sehari-hari tetapi menggunakan bahasa Bali Alus. Mengucapkan mantra, wus amangan nginum lah tasira pemantuka ring karanguni soang -soang . Artinya, begitu kita memberikan persembahan makan dan minum, kembalilah ke tempat asalnya.

“Saat kita mengaturkan Segehan ini, kita sudah memberikan upah kepada mereka, agar mereka tidak lagi mencelakai kita. Karena kita sudah memberikan persembahan-persembahan tersebut , selanjutnya matabuhan arak berem atau jenis alkohol sebanyak tiga kali, dimana alkohol secara ilmiah sangat efektif dapat dipakai membunuh berbagai kuman atau bakteri yang merugikan”, kata Putra.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....