Kayu Tabalien Masih Dicari Warga untuk Pembuatan Sapundu
- 14 Okt 2024 16:25 WIB
- Palangkaraya
KBRN, Palangka Raya: Kayu tabalien atau kayu ulin, yang dikenal sebagai bahan utama pembuatan sapundu, tetap menjadi buruan masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah.
Hingga saat ini, kayu tersebut masih digunakan dalam pembuatan tiang penyangga arwah dalam ritual Tiwah, sebuah upacara ritual keagamaan umat Hindu Kaharingan yang sakral bagi suku Dayak Ngaju.
Sapundu adalah salah satu simbol penting dalam ritual Tiwah, yang dilakukan untuk mengantar arwah leluhur menuju alam keabadian.
Kayu tabalien dipilih karena memiliki sifat yang kuat, tahan lama, dan dianggap suci, sehingga diyakini mampu menahan energi spiritual dan membawa arwah menuju perjalanan yang lebih baik.
Seorang pembuat sapundu dari DAS Kahayan, Sika E Siman, mengatakan bahwa keberadaan kayu tabalien semakin sulit ditemukan. Selain itu proses pembuatan sapundu memerlukan keterampilan khusus, termasuk dalam memilih kayu yang tepat. Senin, (14/10/2024).
Lebih lanjut dikatakan Sika, tidak semua kayu bisa digunakan untuk sapundu. Kayu tabalien memiliki tekstur dan warna yang khas, serta dipercaya mampu menahan energi yang diperlukan dalam ritual Tiwah.
Masyarakat adat pun berharap adanya perhatian dari pemerintah untuk mendukung pelestarian kayu tabalien, termasuk dengan melakukan upaya reboisasi atau penanaman kembali.
"Kayu ini tidak hanya dipilih karena kekuatannya, tapi juga karena diyakini memiliki nilai spiritual tersendiri. Oleh sebab itu, kayu tabalien tetap dicari hingga saat ini, meskipun semakin langka," ujarnya.
Dengan semakin terbatasnya ketersediaan kayu tabalien, masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah dihadapkan pada tantangan menjaga tradisi mereka tetap hidup.
Namun, semangat mereka untuk melestarikan budaya leluhur tetap kuat, bahkan di tengah tekanan modernisasi dan perubahan lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....