Pekerja Kalrez Tetap Bekerja Profesional Meski Gaji Tertunda

  • 21 Jan 2026 15:45 WIB
  •  Bula

RRI.CO.ID, Bula- Desa Fattolo, Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku pagi itu terlihat tenang dari kejauhan. Namun di salah satu sumur minyak milik Kalrez Petroleum Seram Ltd, semburan gas yang membumbung tinggi menjadi pengingat bahwa dibalik ketenangan, ada masalah serius yang tengah terjadi.

Aroma minyak dan gas mengisi udara, namun para pekerja tetap berada di lapangan, bekerja tanpa lelah. Ali Rahman Rumuar, Ketua Serikat Pekerja Kalrez, berdiri di dekat semburan itu. Wajahnya menampakkan kelelahan, tapi matanya menyiratkan tekad.

“Kami belum menerima gaji kurang lebih lima bulan, dan sebentar lagi memasuki delapan bulan. Tapi tanggung jawab moral dan profesionalisme tetap menjadi kewajiban kami,” kata Ali dengan suara tenang namun tegas saat ditemui di lokasi Semburan gas, Selasa, 20 Januari 2026.

Bagi Ali dan rekan-rekannya, keberadaan mereka bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga tindakan kemanusiaan untuk masyarakat Fattolo yang terdampak semburan gas.

Di desa kecil ini, masyarakat hidup berdampingan dengan sumur minyak. Namun saat gas menyembur, kekhawatiran pun muncul. Anak-anak yang bermain di sekitar area harus dijauhkan, sementara warga menatap para pekerja dengan mata penuh harap. “Yang kami lakukan adalah mitigasi risiko. Bagaimana caranya supaya gas itu bisa dihentikan, agar masyarakat tidak panik,” ujar Ali.

Setiap langkah mereka di lapangan bukan hanya soal pekerjaan, tapi soal keselamatan warga sekitar. Selain risiko keselamatan, persoalan gaji yang tertunda menjadi beban tersendiri. Banyak pekerja yang memiliki keluarga, tanggungan, dan kebutuhan sehari-hari yang menunggu.

Ali berharap pihak-pihak terkait lebih serius menangani persoalan Kalrez. “Semua pemerintah daerah, mulai dari DPRD hingga Bupati, cukup serius membantu. Tapi memang ada tahapan perizinan yang harus ditempuh di pusat. Ada effort lebih yang harus dilakukan, tapi hasilnya pasti akan terlihat,” katanya.

Manajemen Kalrez sendiri telah menyampaikan komitmen untuk menyelesaikan pembayaran gaji pada akhir Januari. Namun Ali menegaskan, jika janji itu belum terealisasi, para pekerja akan mengambil langkah lebih tegas.

“Serikat Pekerja dan seluruh pekerja mungkin akan turun bersama keluarga, dan membuat tuntutan yang lebih besar, baik ke pemerintah daerah maupun DPRD,” ujarnya.

Di balik aroma minyak dan semburan gas, terlihat wajah-wajah pekerja yang menyimpan kesabaran, tanggung jawab, dan harapan. Mereka bukan hanya menjaga sumur minyak, tetapi juga menjaga keamanan dan ketenangan masyarakat Fattolo.

Setiap tetes keringat, setiap langkah hati-hati di lapangan, adalah bukti nyata bahwa profesionalisme dan kemanusiaan bisa berjalan berdampingan, meski gaji belum kunjung datang.

Desa Fattolo hari itu bukan sekadar lokasi sumur minyak. Ia adalah panggung bagi perjuangan manusia biasa yang menghadapi tekanan ekonomi, risiko keselamatan, dan ketidakpastian, sambil tetap mempertahankan harga diri dan tanggung jawab moralnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....