Program Genting di SBT Sasar Ratusan Keluarga Berisiko Stunting

  • 01 Feb 2025 18:12 WIB
  •  Bula

KBRN, Bula : Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Ismail Suwakul menyebut sebanyak 218 keluarga berisiko stunting kategori miskin di daerah itu menjadi sasaran program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting atau Genting.

"Secara keseluruhan provinsi Maluku keluarga untuk keluarga berisiko stunting miskin totalnya itu 4350 ribu. Sedangkan kabupaten Seram Bagian Timur itu 218 kepala keluarga (KK). Jadi ada 218 KK itu yang sekarang jadi sasaran kita," kata Ismail kepada wartawan usai pelaksanaan sosialisasi program tersebut di kantor Bappeda dan Litbang SBT, Jum'at (31/1/2025).

Ismail menyebutkan, jumlah keluarga berisiko stunting tersebut tersebar di 15 kecamatan se-kabupaten Seram Bagian Timur.

Ia menjelaskan program Genting merupakan inovasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang bertujuan memberikan dukungan langsung kepada keluarga yang memiliki anak stunting melalui pendampingan dan bantuan nutrisi.

Program ini kata dia menyasar keluarga berisiko stunting terutama kategori miskin yang meliputi Ibu hamil, Ibu menyusui, anak di bawah dua tahun (Baduta), anak usia 24-59 bulan yang dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pihak sebagai mitra.

"Yang akan kita lakukan kedepan pertama-tama dengan cara menggaet mitra terutama mitra-mitra dari BUMN, BUMND, swasta, dari pihak media, kemudian adik-adik mahasiswa, LSM maupun organisasi yang lain, " ungkapnya.

Ismail menerangkan mitra-mitra tersebut akan menjadi orang tua asuh (OTA) dari anak-anak yang beresiko stunting.

Dalam pelaksanaannya, Ia menyebutkan program Genting mencakup 4 item yang meliputi bantuan nutrisi, non nutrisi, akses air bersih, perumahan dan edukasi kepada keluarga berisiko stunting.

"Jadi untuk nutrisi, sasaran kita itu bisa mencari mitra yang bisa memberikan bantuan dihitung per hari itu 15 ribu. Jadi itu nanti digunakan untuk sasaran tersebut. Sedangkan non nutrisi itu dia masuknya ke pembangunan, perumahan, lingkungan ditata dengan baik. Sedangkan akses bersih itu seperti pipanisasi dan lain-lain. Sedangkan edukasi ini bisa kita gunakan wartawan, mahasiswa, LSM atau organisasi profesi yang kira-kira bisa membantu dalam mengedukasi masyarakat, " jelasnya


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....