Saatnya Pemkab SBT Gunakan Dana BTT Tanggulangi Dampak Kemarau Panjang
- 03 Agt 2026 18:06 WIB
- Bula
RRI.CO.ID, Bula-Pemkab Seram Bagian Timur (SBT) Maluku, dinilai sudah waktunya memanfaatkan alokasi Belanja Tak Terduga (BTT) untuk menangani dampak kemarau panjang berupa Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dan krisis air bersih yang sementara melanda.
Penilaian ini disampaikan Ketua DPRD setempat, Risman Sibualamo kepada wartawan di Bula via telepon WhatsApp, Senin, 3 Agustus 2026. Dikatakan, tahun ini Pemkab dan DPRD mengalokasi sedikitnya Rp. 1,5 Miliar dari APBD untuk pos anggaran BTT.
Sesuai peruntukannya, alokasi dana tersebut memang ditujukan untuk penanganan situasi darurat bencana, salah satunya seperti yang dialami warga Bula dan sekitar saat ini. Sebab itu sekali lagi, Ketua DPC PKB ini berpandangan Pemkab sudah seharusnya memanfaatkan alokasi belanja dimaksud.
"Saya kira tanpa harus DPRD bilang, Pemkab sebenarnya sudah tahu itu. Kita punya belanja BTT kan ada itu, kan bisa digunakan untuk menangani kebakaran dan krisis air bersih yang ada saat ini," kata Risman.
Risman mengakui musibah Karhutla dan krisis air bersih akibat kemarau panjang tahun ini memang yang paling terparah. Untuk menseriusi percakapan mengenai rencana pemanfaatan alokasi BTT itu sendiri, DPRD telah menjadwalkan bakal menggelar rapat gabungan komisi, menghadirkan pimpinan OPD teknis terkait.
UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten SBT mencatat luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah ini mencapai sekitar 280 hektare berdasarkan hasil analisis geospasial.
Luasan itu tersebar di tiga kecamatan yakni Kecamatan Bula, Kecamatan Bula Barat dan Kecamatan Teluk Waru dengan titik terparah berada di Kecamatan Bula.
Kepala UPTD KPH Kabupaten SBT, Musa Rumakat, mengatakan luas lahan yang terbakar terdiri atas 210 hektare di Kecamatan Bula, 42 hektare di Kecamatan Bula Barat, dan 28 hektare di Kecamatan Teluk Waru.
"Dari analisa geospasial, luas kebakaran hutan dan lahan mencapai sekitar 280 hektare, dengan rincian Kecamatan Bula 210 hektare, Bula Barat 42 hektare, dan Teluk Waru 28 hektare," ucap Musa.
Dikatakan Kecamatan Bula merupakan kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran karena didominasi tutupan lahan berupa semak belukar yang mudah terbakar saat cuaca panas.
Ia menjelaskan, sekitar 38 persen tutupan lahan di wilayah Bula merupakan semak belukar. Kondisi tersebut membuat kawasan itu sangat sensitif terhadap panas maupun percikan api yang berasal dari aktivitas manusia.
"Sedikit saja ada sumber api, baik karena aktivitas masyarakat maupun faktor lainnya, api dapat dengan cepat menyebar karena vegetasi semak belukar sangat mudah terbakar," ujarnya.
Karena itu, Musa mengimbau masyarakat tidak lagi membuka lahan maupun membakar sampah di kawasan yang berpotensi memicu kebakaran.
"Kami berharap masyarakat tidak melakukan pembakaran sembarangan di area yang rawan. Pencegahan menjadi langkah paling penting agar kebakaran tidak semakin meluas," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....