Bukan Kejar Banyak Tempat, Slow Tourism Ajak Wisatawan Menikmati Perjalanan

  • 14 Sep 2026 09:43 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Di tengah tren liburan yang sering kali identik dengan mengejar banyak destinasi dalam waktu singkat, muncul cara baru menikmati perjalanan yang lebih santai, yaitu slow tourism. Konsep ini mengajak wisatawan untuk memperlambat langkah, menikmati suasana, dan benar-benar merasakan pengalaman di tempat yang dikunjungi.

Destinasi yang cocok untuk slow tourism biasanya menawarkan suasana tenang, keindahan alam, kehidupan masyarakat lokal, serta aktivitas yang tidak membutuhkan jadwal terlalu padat. Desa wisata, kawasan pegunungan, persawahan, pantai yang masih alami, hingga kota kecil dengan kekayaan budaya dapat menjadi pilihan menarik.

Berbeda dengan perjalanan yang mengejar sebanyak mungkin tempat dalam satu hari, slow tourism memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk tinggal lebih lama di satu destinasi. Waktu tersebut dapat digunakan untuk berjalan kaki, menikmati kuliner lokal, berbincang dengan warga, atau sekadar duduk menikmati pemandangan.

Mengapa konsep ini semakin menarik? Salah satu alasannya adalah keinginan wisatawan untuk mendapatkan pengalaman yang lebih personal dan tidak sekadar datang, berfoto, kemudian pergi tanpa mengenal karakter tempat tersebut.

Dalam slow tourism, masyarakat lokal juga memiliki peran penting karena wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan kehidupan dan budaya setempat. Mulai dari mencicipi makanan tradisional, mengikuti aktivitas warga, membeli kerajinan lokal, hingga mempelajari tradisi menjadi pengalaman yang membuat perjalanan terasa lebih dekat.

Waktu terbaik untuk menikmati slow tourism sebenarnya tidak harus menunggu liburan panjang. Akhir pekan pun dapat dimanfaatkan dengan memilih destinasi yang tidak terlalu jauh dan memberikan waktu yang cukup untuk menikmati satu kawasan tanpa memasukkan terlalu banyak agenda.

Cara melakukan slow tourism juga cukup sederhana, yaitu mengurangi aktivitas yang terlalu padat dan memberikan ruang untuk menikmati perjalanan secara perlahan. Wisatawan bisa memilih berjalan kaki daripada selalu menggunakan kendaraan, menginap di penginapan lokal, menikmati makanan khas, serta mengurangi ketergantungan pada gawai selama berada di destinasi.

Konsep ini juga dapat memberikan manfaat bagi destinasi karena wisatawan memiliki peluang lebih besar untuk menggunakan jasa, membeli produk, dan menikmati kuliner yang dikelola masyarakat setempat. Dengan begitu, kegiatan wisata tidak hanya memberikan pengalaman bagi pengunjung, tetapi juga dapat ikut menggerakkan ekonomi lokal.

Pada akhirnya, slow tourism mengingatkan bahwa liburan tidak selalu tentang seberapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi. Terkadang, perjalanan yang paling berkesan justru hadir ketika kita memiliki waktu untuk menikmati secangkir kopi, melihat pemandangan, berbincang dengan warga, dan pulang dengan cerita yang benar-benar kita rasakan. (DEP)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....