Tak Perlu Terburu-buru, Ini 7 Destinasi yang Cocok untuk Slow Tourism
- 14 Sep 2026 09:46 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, BUKITTINGGI - Liburan kini tidak selalu harus diisi dengan mengunjungi banyak tempat dalam waktu singkat. Bagi sebagian wisatawan, perjalanan justru terasa lebih menyenangkan ketika dilakukan perlahan, menikmati suasana, mengenal masyarakat, dan memberi waktu bagi diri sendiri untuk benar-benar beristirahat.
Konsep tersebut dikenal dengan istilah slow tourism, yaitu gaya berwisata yang mengutamakan pengalaman, ketenangan, interaksi dengan masyarakat lokal, serta keberlanjutan dibandingkan sekadar mengejar jumlah destinasi. Tren ini cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati perjalanan tanpa jadwal terlalu padat dan tidak ingin pulang dengan rasa lelah karena terlalu banyak aktivitas.
Salah satu destinasi yang cocok untuk pengalaman tersebut adalah Desa Wisata Pentingsari di Sleman, Yogyakarta. Suasana pedesaan, aktivitas masyarakat, lingkungan hijau, serta pengalaman mengikuti kegiatan lokal membuat wisatawan dapat menikmati perjalanan dengan ritme yang lebih santai.
Pilihan lainnya adalah Desa Penglipuran di Bangli, Bali, yang menawarkan suasana desa tradisional dengan lingkungan yang tertata dan kehidupan masyarakat yang masih lekat dengan adat. Berjalan kaki menyusuri kawasan desa sambil melihat arsitektur tradisional dapat menjadi pengalaman sederhana yang justru terasa berkesan.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati perjalanan sekaligus merasakan kehidupan masyarakat pegunungan, Wae Rebo di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, dapat menjadi pilihan. Perjalanan menuju desa ini membutuhkan trekking, tetapi proses tersebut menjadi bagian dari pengalaman karena wisatawan diajak menikmati alam dan kehidupan masyarakat sebelum tiba di kawasan rumah adat Mbaru Niang.
Sementara itu, Tetebatu di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menawarkan suasana pedesaan dengan hamparan persawahan dan panorama alam yang menenangkan. Wisatawan dapat berjalan menyusuri area persawahan, menikmati udara segar, mengunjungi air terjun, atau berinteraksi dengan masyarakat tanpa harus mengejar banyak agenda dalam satu hari.
Di kawasan Danau Toba, Desa Wisata Sigapiton di Sumatera Utara juga menarik untuk dikunjungi dengan pendekatan slow tourism. Pemandangan danau, persawahan, rumah adat, serta aktivitas masyarakat lokal memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk mengenal alam dan budaya secara lebih dekat.
Bagi pencinta wisata budaya, Kete Kesu di Toraja, Sulawesi Selatan, menawarkan pengalaman yang berbeda melalui kekayaan tradisi dan sejarah masyarakat Toraja. Kunjungan ke kawasan ini akan terasa lebih bermakna jika dilakukan dengan waktu yang cukup untuk memahami budaya setempat, bukan sekadar datang untuk mengambil foto lalu berpindah ke lokasi berikutnya.
Lalu, ada Desa Wisata Osing di Banyuwangi, Jawa Timur, yang dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin mengenal budaya masyarakat Osing. Interaksi dengan warga, menikmati tradisi, mencicipi kuliner lokal, dan memahami kehidupan masyarakat menjadi bagian penting dari perjalanan yang tidak terburu-buru.
Pada akhirnya, slow tourism bukan berarti wisatawan harus menghabiskan waktu berminggu-minggu di satu tempat. Hal yang lebih penting adalah bagaimana perjalanan tersebut memberikan ruang untuk menikmati alam, memahami budaya, berinteraksi dengan masyarakat, dan menciptakan pengalaman yang terasa personal.
Dengan memilih destinasi yang mendukung konsep slow tourism, wisatawan dapat melihat bahwa liburan tidak harus selalu penuh aktivitas. Terkadang, berjalan perlahan di sebuah desa, menikmati pemandangan dari kejauhan, berbincang dengan warga, atau sekadar duduk menikmati udara segar justru menjadi bagian paling berharga dari sebuah perjalanan. (DEP)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....