Gen Z dan Media Sosial Mencari Teman atau Validasi?

  • 30 Sep 2026 21:12 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z). Namun, di balik aktivitas berbagi foto, video, dan cerita sehari-hari, muncul pertanyaan menarik: apakah media sosial digunakan untuk mencari teman atau justru mencari validasi dari orang lain?

Pertanyaan tersebut menjadi tema dalam program Cakap Digital yang disiarkan RRI Pro 1 Bukittinggi. Dalam dialog tersebut, penyiar Irvy Annisa menghadirkan dua narasumber dari kalangan mahasiswa, yakni Fadillah Mahfuzah dari Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bina Sarana Informatika dan Delima Fatmawati dari Program Studi Jurnalistik UIN Mahmud Yunus Batusangkar.

Menurut Fadillah, media sosial saat ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi tempat membangun personal branding dan memperluas jaringan pertemanan. Ia mengaku aktif menggunakan Instagram, TikTok, dan WhatsApp sebagai media yang paling sering digunakan dalam kesehariannya.

“Media sosial bisa digunakan untuk banyak hal. Tidak selalu untuk mencari validasi. Tergantung bagaimana kita menggunakannya secara bijak,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Delima. Ia menilai media sosial dapat dimanfaatkan untuk membangun citra diri yang positif sekaligus menjadi sarana berbagi informasi dan pengalaman dengan orang lain. Menurutnya, jumlah likes, komentar, maupun followers memang memiliki pengaruh tertentu terhadap perasaan pengguna, tetapi tidak boleh menjadi ukuran utama kualitas diri seseorang.

“Banyaknya komentar atau likes tidak mencerminkan kualitas diri kita. Yang penting adalah bagaimana kita memanfaatkan media sosial untuk hal-hal yang positif,” katanya.

Dalam diskusi tersebut, keduanya juga mengungkapkan fenomena penggunaan akun utama dan akun kedua (second account) yang cukup populer di kalangan Gen Z. Akun utama biasanya digunakan untuk menampilkan konten yang lebih tertata dan mendukung personal branding, sedangkan akun kedua menjadi ruang yang lebih bebas untuk berbagi aktivitas sehari-hari kepada lingkaran pertemanan yang lebih dekat.

Selain membahas manfaat media sosial dalam membangun relasi, para narasumber juga menyoroti dampak negatif yang kerap muncul, seperti kebiasaan membandingkan kehidupan diri sendiri dengan kehidupan orang lain yang terlihat di layar. Menurut mereka, pengguna perlu memiliki kemampuan untuk menyaring konten dan mengendalikan diri agar tidak terjebak dalam perasaan iri atau rendah diri.

Fadillah menjelaskan bahwa pengguna dapat memanfaatkan fitur seperti “not interested” atau berhenti mengikuti akun tertentu apabila konten yang muncul justru memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental.

“Kita harus pandai memilah mana konten yang bermanfaat dan mana yang tidak. Kalau memang mengganggu, lebih baik dihindari,” ujarnya.

Sementara itu, Delima menekankan pentingnya menjaga etika dalam berkomentar di media sosial. Ia menilai komentar negatif sering kali hanya menunjukkan karakter dari orang yang menuliskannya dan belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya dari seseorang yang menjadi sasaran komentar tersebut.

Keduanya sepakat bahwa tidak semua komentar negatif perlu ditanggapi. Dalam banyak kasus, mengabaikan komentar yang bersifat provokatif justru menjadi langkah yang lebih bijak dibandingkan terlibat dalam perdebatan yang tidak produktif.

Meski demikian, para narasumber mengakui bahwa mencari validasi di media sosial bukanlah sesuatu yang sepenuhnya salah selama masih dalam batas yang wajar. Validasi dapat menjadi motivasi untuk berkembang, terutama dalam membangun personal branding. Namun, pengguna tetap harus memastikan bahwa kebahagiaan dan rasa percaya diri tidak bergantung sepenuhnya pada respons orang lain di dunia maya.

Melalui dialog tersebut, RRI mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memanfaatkan media sosial secara sehat, bijak, dan bertanggung jawab. Media sosial dapat menjadi ruang yang positif untuk membangun pertemanan, berbagi inspirasi, serta mengembangkan potensi diri, selama pengguna mampu menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata.(DP)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....