Syafruddin Prawiranegara, "Presiden tanpa Singgasana"

  • 07 Sep 2026 09:35 WIB
  •  Bukittinggi

RRI,CO.ID, Bukittinggi - Syafruddin Prawiranegara dikenal sebagai “presiden tanpa singgasana” karena memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dalam situasi genting tanpa istana dan ibu kota tetap. Ia mengambil peran penting setelah Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap Belanda dalam Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948.

Syafruddin memimpin PDRI yang dibentuk di Sumatera sejak 22 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949. Pemerintahan darurat tersebut berpindah dari Bukittinggi hingga wilayah pedalaman dan daerah gerilya untuk menjaga keberlangsungan pemerintahan Republik Indonesia di tengah tekanan militer Belanda.

Melalui jaringan radio dan jalur diplomasi, PDRI berhasil menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih berdiri dan menjalankan pemerintahan meskipun Yogyakarta sebagai pusat pemerintahan telah dikuasai Belanda. Peran tersebut menjadi bagian penting dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Setelah kondisi politik membaik pasca-Perjanjian Roem-Royen, Syafruddin mengembalikan mandat pemerintahan kepada Presiden Soekarno pada Juli 1949. Langkah tersebut menjadi bukti komitmennya terhadap persatuan dan keberlangsungan negara.

Atas jasa besarnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Syafruddin Prawiranegara ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2011. Selain memimpin PDRI, ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan pertama Republik Indonesia dan Gubernur Bank Indonesia pertama. (ER/YPA)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....