Tragedi Kanso, Luka Sejarah Komunitas Tionghoa di Pariaman
- 10 Agt 2026 09:02 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Pariaman - Sejarah Kota Pariaman menyimpan catatan kelam terkait peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Kanso atau Insiden Kansas. Peristiwa yang berlangsung pada masa akhir pendudukan Jepang tersebut melibatkan sejumlah warga keturunan Tionghoa dan kemudian berdampak panjang terhadap keberadaan komunitas Tionghoa di Pariaman.
Sejumlah sumber sejarah menyebut peristiwa itu terjadi sekitar 1944, sementara penelitian dan literatur lainnya mencatatnya pada 1945. Perbedaan tersebut masih menjadi bagian dari kajian sejarah lokal mengenai Tragedi Kanso.
Peristiwa tersebut berlangsung di kawasan yang dikenal sebagai Kampung Cino, yang kini berada di sekitar Simpang Tugu Tabuik, Kota Pariaman. Pada masa sebelum tragedi, komunitas Tionghoa merupakan bagian dari masyarakat Pariaman dan berperan dalam aktivitas perdagangan serta kehidupan sosial masyarakat setempat.
Ketegangan kemudian meningkat pada masa pendudukan Jepang. Sejumlah pejuang dan masyarakat setempat mencurigai adanya pihak-pihak yang memberikan informasi kepada tentara Jepang mengenai keberadaan maupun pergerakan pejuang.
Kecurigaan tersebut kemudian berujung pada tindakan kekerasan terhadap sejumlah warga keturunan Tionghoa yang dituduh terlibat dalam kegiatan mata-mata. Dalam sejumlah sumber sejarah lokal, eksekusi terhadap korban disebut menggunakan kanso, yakni potongan logam tebal dari bekas kaleng.
Dari istilah alat tersebut kemudian muncul penyebutan Tragedi Kanso atau Insiden Kansas.
Dampak peristiwa tidak berhenti pada korban yang menjadi sasaran tindakan kekerasan. Ketakutan dan trauma mendorong sebagian besar masyarakat Tionghoa meninggalkan Pariaman dan berpindah ke daerah lain. Sejumlah rumah, toko, serta aset yang ditinggalkan kemudian berpindah tangan atau dijual.
Kondisi tersebut menyebabkan keberadaan komunitas Tionghoa di Pariaman semakin berkurang. Hingga kini, absennya komunitas Tionghoa dalam jumlah besar di Kota Pariaman menjadi salah satu jejak sosial dari rangkaian peristiwa sejarah tersebut.
Sejumlah kajian mengenai Tragedi Kanso menempatkan peristiwa ini sebagai bagian dari dinamika sosial dan politik yang kompleks pada masa pendudukan Jepang hingga awal kemerdekaan. Karena itu, sejarah tersebut perlu dipahami secara hati-hati dan berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Mengingat Tragedi Kanso bukan untuk membuka kembali luka atau membangun kebencian antaretnis, melainkan menjadi pembelajaran tentang pentingnya menjaga kehidupan masyarakat yang beragam serta mencegah kekerasan dan konflik sosial terulang kembali.
Pemerintah Kota Pariaman juga pernah menggelar bedah buku Tragedi Kanso: Trauma Etnisitas Cina di Pariaman 1945 karya Armaidi Tanjung sebagai bagian dari upaya memperkaya pemahaman masyarakat terhadap sejarah lokal. (ER/YPA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....