Gen Z dan Burnout, Kenapa Cepat Lelah di Usia Muda?

  • 28 Jul 2026 07:41 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Generasi Z menghadapi tekanan hidup yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di era digital dengan tuntutan serba cepat dan kompetitif.

Tekanan akademik, karier, dan ekspektasi sosial sering datang bersamaan. Hal ini membuat banyak Gen Z merasa lelah secara mental sejak usia muda.

Menurut World Health Organization, burnout adalah sindrom akibat stres kerja kronis. “Burnout ditandai kelelahan, sinisme, dan penurunan efektivitas kerja” (WHO, 2019).

Paparan media sosial juga memperparah kondisi mental generasi ini. Mereka sering membandingkan diri dengan pencapaian orang lain secara terus-menerus.

Fenomena fear of missing out atau FOMO meningkatkan kecemasan sosial. Gen Z merasa harus selalu produktif agar tidak tertinggal dari orang lain.

Penelitian dari American Psychological Association menyoroti kondisi ini. “Generasi muda melaporkan tingkat stres lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya” (APA, 2020).

Selain itu, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur. Teknologi membuat seseorang sulit benar-benar berhenti dari aktivitas kerja.

Kurangnya waktu istirahat berdampak pada kesehatan fisik dan emosional. Banyak Gen Z mengalami gangguan tidur dan kelelahan berkepanjangan.

Menurut McKinsey & Company, kesejahteraan mental menjadi isu penting. “Perusahaan perlu mendukung keseimbangan kerja dan kehidupan karyawan” (McKinsey, 2022).

Solusi burnout memerlukan kesadaran individu dan dukungan lingkungan sekitar. Manajemen waktu, batasan digital, dan self-care menjadi langkah penting.

Kesimpulannya, burnout pada Gen Z dipengaruhi berbagai faktor kompleks. Mengelola tekanan dengan bijak membantu mereka tetap sehat dan produktif. (APS/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....