Fenomena Hustle Culture, Produktif atau Toxic?
- 28 Jul 2026 07:41 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Hustle culture semakin populer di kalangan pekerja modern dan generasi muda. Budaya ini mendorong seseorang untuk terus bekerja keras tanpa henti.
Konsep ini sering dikaitkan dengan kesuksesan dan pencapaian karier tinggi. Banyak orang percaya kerja lebih lama akan menghasilkan hasil lebih besar.
Menurut World Health Organization, kerja berlebihan memiliki dampak serius bagi kesehatan. “Jam kerja panjang meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung” (WHO, 2021).
Hustle culture sering membuat individu mengabaikan keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi. Waktu istirahat menjadi berkurang dan kualitas hidup menurun.
Di sisi lain, budaya ini juga dapat meningkatkan motivasi dan disiplin kerja. Beberapa orang merasa lebih produktif dengan target dan tekanan tinggi.
Namun, penelitian dari Harvard Business Review menyoroti dampak negatifnya. “Produktivitas menurun ketika seseorang mengalami kelelahan kronis” (Harvard Business Review, 2019).
Fenomena ini juga diperkuat oleh media sosial yang menampilkan kesuksesan instan. Banyak konten mempromosikan kerja tanpa henti sebagai standar kesuksesan.
Padahal, setiap individu memiliki batas fisik dan mental yang berbeda. Memaksakan diri justru dapat berujung pada burnout dan stres berkepanjangan.
Menurut International Labour Organization, keseimbangan kerja sangat penting. “Lingkungan kerja sehat meningkatkan produktivitas jangka panjang” (ILO, 2020).
Kesimpulannya, hustle culture tidak selalu buruk jika dilakukan secara seimbang. Kunci utamanya adalah menjaga kesehatan sambil tetap produktif secara berkelanjutan. (APS/YPA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....