Menggagas Modernisasi dan Merevitalisasi Roh Surau Minang

  • 03 Jul 2026 08:40 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Fenomena sepinya masjid dan surau dari aktivitas generasi muda saat ini menjadi perhatian serius dari berbagai pihak. Remaja zaman sekarang terpantau lebih memilih menghabiskan waktu berjam-jam di kafe ketimbang ikut beraktivitas memakmurkan rumah ibadah. Hal ini memicu keprihatinan sekaligus menjadi tantangan besar bagi para pengurus masjid untuk bisa menghadirkan daya tarik baru yang sesuai dengan kebutuhan serta gaya hidup digital anak muda masa kini.

Menanggapi tantangan tersebut, Ketua DPD BKPRMI Kota Bukittinggi yang juga merupakan Dosen UIN Bukittinggi, Dr. H. Januar, M.Pd., menawarkan solusi yang segar dan relevan. Saat berbicara dalam program "Pro 2 Religi" di kanal YouTube RRI Bukittinggi, beliau menekankan pentingnya rekonstruksi peran rumah ibadah secara menyeluruh, mulai dari modernisasi fasilitas, refleksi sejarah, hingga pelurusan makna hijrah di kalangan remaja.

Fasilitas Modern dan Pendekatan Humanis: Menarik Pemuda Kembali ke Surau

Menurut Januar, langkah awal yang harus dilakukan adalah memodernisasi fasilitas penunjang fisik. Pengurus masjid harus mulai memikirkan pengadaan fasilitas modern, seperti jaringan Wi-Fi gratis, guna mengakomodasi kebutuhan belajar dan interaksi digital positif para remaja. Selain fasilitas fisik, pola komunikasi pengurus masjid juga harus diubah agar lebih ramah terhadap anak-anak dan remaja.

Karakter anak muda yang cenderung ekspresif dan aktif sering kali disalahpahami, sehingga mereka langsung ditegur dengan keras dan akhirnya merasa enggan untuk kembali datang. "BKPRMI berkomitmen untuk mengubah paradigma lama ini dengan mengedukasi pengurus agar menciptakan lingkungan masjid yang aman, nyaman, dan suportif bagi perkembangan psikologis anak muda," ujar Januar.

Ke depan nya, BKPRMI Bukittinggi berencana menggelar berbagai program pelatihan aplikatif non-keagamaan yang sangat diminati generasi muda saat ini. Mulai dari pelatihan public speaking, pemandu acara (MC), teknik kepenulisan, hingga kelas pembuatan konten kreatif berbasis digital content creation. Langkah inovatif ini diharapkan mampu mengembalikan fungsi surau sebagai pusat peradaban, literasi, dan kreativitas pemuda, bukan sekadar tempat untuk melakukan ibadah ritual semata.

Muskhaf Alquran menjadi sarana bacaan bagi surau dan masjid. (Foto : Doc Nettour Travel)
Foto : Doc Nettour Travel

Meneladani Tokoh Bangsa Melalui "Jihad Ilmu"

Upaya mengembalikan fungsi surau ini sejatinya merupakan langkah untuk menghidupkan kembali nilai sejarah dan budaya lokal. Ranah Minangkabau sejak dahulu kala terkenal sebagai daerah yang melahirkan deretan tokoh besar pencetus sekaligus pendiri bangsa Indonesia, seperti Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, hingga Haji Agus Salim. Fakta sejarah membuktikan bahwa karakter hebat, kecerdasan intelektual, dan keteguhan prinsip para pejuang bangsa tersebut dahulunya ditempa dan berakar kuat dari tradisi belajar di surau.

Januar memaparkan bahwa anak muda di era kemerdekaan ini tidak lagi bertempur fisik dengan senjata, melainkan berjuang mengentaskan kebodohan dan ketertinggalan zaman melalui istilah "jihad ilmu". Dalam konteks ini, para pelajar dan mahasiswa dituntut fokus menyelesaikan pendidikan demi meraih kualitas hidup yang lebih baik. Keberhasilan pendidikan tersebut harus membawa tiga perubahan mendasar yang selaras dengan tujuan pendidikan surau tradisional, yakni aspek kognitif; memperluas wawasan pengetahuan, aspek afektif; perbaikan karakter dan akhlak mulia, dan aspek psikomotorik; kepemilikan keterampilan hidup (life skills) yang nyata.

Membumikan Makna Hijrah Melalui *Ibda' Binafsih

Perubahan karakter dan pencapaian "jihad ilmu" tersebut tentu membutuhkan transformasi spiritual yang nyata dari dalam diri remaja. Namun, Januar menyayangkan kata "hijrah" sering kali terdengar sebagai sebuah istilah yang berat, kaku, dan menakutkan di telinga sebagian besar generasi muda saat ini karena diasosiasikan dengan perubahan total yang drastis.

Meluruskan pandangan yang keliru tersebut, Januar menjelaskan bahwa konsep hijrah sejati dalam momentum perayaan tahun baru Islam sebenarnya sangat fleksibel dan universal. Esensinya didasarkan pada prinsip utama Ibda' Binafsih, yaitu memulai segala bentuk kebaikan dan perbaikan karakter dari diri sendiri terlebih dahulu melalui langkah-langkah kecil di keseharian.

Wujud hijrah bagi generasi muda saat ini adalah proses perpindahan yang konsisten dari aktivitas negatif menuju kegiatan produktif. Contoh konkretnya adalah memiliki komitmen kuat untuk membatasi diri dari lingkaran buruk, seperti kecanduan game online, bahaya laten judi digital, hingga jeratan narkoba, lalu beralih secara perlahan ke lingkungan pertemanan baru yang positif.

Dengan menyederhanakan makna hijrah menjadi lebih membumi, momentum Muharram ini diharapkan dapat menjadi waktu yang tepat bagi pemuda Bukittinggi untuk mengevaluasi diri. Melalui sinergi antara modernisasi rumah ibadah, semangat "jihad ilmu", dan makna hijrah yang santai namun mendalam, surau di Bukittinggi siap dikembalikan fungsinya menjadi laboratorium sosial yang melahirkan generasi cerdas, berkarakter mulia, dan siap mengabdi pada masyarakat. (AFN)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....