Wilda Zahara, "Kisah Guru Seni Rupa yang Menjadi Pelita Harapan Anak-Anak Istimewa"
- 10 Jun 2026 09:14 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Setiap anak dilahirkan dengan keunikan dan keistimewaan tersendiri. Namun, di balik anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus, selalu ada sosok perempuan tangguh yang mendedikasikan hidupnya demi memastikan golongan ini tidak dipinggirkan dari masyarakat.
Dalam program dialog radio "Perempuan Berdaya" yang disiarkan oleh RRI Bukittinggi, Wilda Zahara, S.Pd., seorang guru keterampilan vokasional dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bukittinggi, membagikan kisah inspiratifnya dalam mendampingi anak-anak istimewa.
Bermula dari Panggilan Hati
Menariknya, Wilda mengungkapkan bahwa latar belakang pendidikannya bukanlah dari Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB), melainkan lulusan dari Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Padang (UNP).
"Awalnya, saya melihat potensi para siswa SLB ketika mereka sedang berlatih untuk perlombaan LKSN (Lomba Keterampilan Siswa Nasional), kebetulan saat itu saya juga sedang menyelesaikan karya akhir kuliah. Momen itulah yang menggerakkan hati saya untuk terjun ke dunia ini," ujar Wilda. Meskipun sempat ragu karena tidak memiliki dasar ilmu pendidikan khusus, ia memberanikan diri untuk keluar dari zona nyaman.
Saat ini, SLB Negeri 1 Bukittinggi mendidik sebanyak 117 siswa yang menempuh pendidikan dari tingkat SD, SMP, hingga SMA. Sekolah ini memfasilitasi berbagai kategori anak istimewa, mulai dari tunanetra (hambatan penglihatan), tunagrahita (hambatan intelektual), tunarungu (hambatan pendengaran dan bicara), hingga tunadaksa (hambatan fisik).
Tantangan Mengelola Emosi dan Belajar Bahasa Isyarat
Wilda mengakui bahwa tantangan terbesar menjadi guru SLB adalah bagaimana mengelola emosi dan suasana hati (mood) siswa di dalam kelas, yang sering kali dipengaruhi oleh kondisi mereka sejak dari rumah. Ia bahkan sempat membagikan pengalamannya saat diacuhkan oleh siswa tunarungu karena kendala komunikasi.
"Setelah saya sadari bahwa mereka membutuhkan komunikasi yang khusus, saya tekun mempelajari bahasa isyarat. Begitu saya mulai menguasainya, anak-anak ini secara naluriah menjadi sangat dekat dan merasa nyaman berbicara dengan saya," ungkapnya.
Untuk menjaga kesehatan mentalnya sendiri di tengah tanggung jawab pekerjaan yang besar, Wilda menerapkan batasan waktu yang jelas. Ia kerap meluangkan waktu untuk menenangkan diri sejenak atau healing sebelum pulang ke rumah, agar persoalan di sekolah tidak terbawa ke dalam kehidupan pribadi.
Seruan Mewujudkan Dunia yang Lebih Inklusif
Melalui kesempatan tersebut, Wilda menekankan pentingnya masyarakat luas untuk menghentikan stigma negatif atau tindakan merundung (bullying) terhadap anak-anak disabilitas. Menurutnya, anak-anak ini tidak ingin dianggap cacat, melainkan ingin diperlakukan setara dan mendapatkan rasa aman di lingkungan sosial.
Ia juga berharap sistem pendidikan inklusif di sekolah reguler dapat diperbaiki dengan memberikan pelatihan khusus bagi para guru, sehingga metode pembelajaran yang diberikan bisa benar-benar sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa.
"Harapan terbesar saya adalah melihat mereka bisa mandiri, mampu berdiri di atas kaki sendiri, dan memiliki keterampilan (soft skill) untuk menyambung hidup mereka kelak ketika orang tua mereka sudah tiada," tutur Wilda dengan penuh emosi.
Kisah Wilda Zahara menjadi bukti nyata bahwa ketangguhan seorang perempuan tidak hanya diukur dari apa yang ia capai secara pribadi, melainkan dari seberapa besar ia mampu bertahan, berjuang, dan mencintai anak-anak istimewa ini tanpa syarat. (DP/YPA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....