Fenomena Brain Rot yang Lagi Dibahas Anak Muda, Otak Lelah karena Konten Receh?
- 31 Mei 2026 13:41 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Belakangan ini istilah “brain rot” semakin sering muncul di media sosial, terutama di kalangan anak muda. Banyak yang memakai istilah ini untuk menggambarkan kondisi ketika otak terasa penuh, sulit fokus, dan seperti “melemah” akibat terlalu banyak mengonsumsi konten digital dangkal setiap hari. Meski terdengar seperti candaan internet, fenomena brain rot sebenarnya cukup dekat dengan kebiasaan digital generasi sekarang.
Brain rot biasanya dikaitkan dengan kebiasaan scrolling tanpa henti di media sosial. Video pendek, meme absurd, tren random, sampai konten receh yang muncul terus-menerus membuat otak terbiasa menerima hiburan cepat dalam waktu singkat. Konten seperti ini memang menghibur, tetapi jika dikonsumsi berlebihan, kemampuan otak untuk fokus dan berpikir mendalam bisa ikut menurun.
Banyak anak muda mulai sadar mereka mengalami brain rot ketika sulit menikmati aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lama. Membaca buku beberapa halaman terasa berat, menonton film berdurasi panjang jadi membosankan, bahkan belajar lima belas menit saja rasanya ingin langsung membuka media sosial. Otak akhirnya terbiasa dengan stimulasi cepat dan kehilangan kesabaran untuk proses yang lebih lambat.
Fenomena ini juga membuat seseorang lebih mudah terdistraksi. Saat sedang belajar atau bekerja, tangan refleks membuka aplikasi lain hanya karena merasa bosan beberapa detik. Fokus yang terus terpecah membuat produktivitas menurun dan tugas terasa lebih melelahkan dari biasanya. Ironisnya, semakin sering terdistraksi, semakin sulit pula otak untuk kembali tenang.
Salah satu penyebab brain rot semakin ramai dibahas adalah karena algoritma media sosial sekarang sangat pintar menarik perhatian. Setiap pengguna terus diberi konten sesuai minat mereka sehingga waktu online terasa tidak ada habisnya. Tanpa sadar, seseorang bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk melihat video yang sebenarnya tidak terlalu penting, tetapi tetap sulit dihentikan.
Selain memengaruhi fokus, brain rot juga bisa berdampak pada kesehatan mental. Terlalu banyak menerima informasi dan hiburan dalam waktu singkat membuat otak terasa penuh dan cepat lelah. Akibatnya muncul rasa overthinking, sulit tidur, mudah cemas, hingga kehilangan motivasi melakukan aktivitas di dunia nyata. Banyak orang merasa capek secara mental meski seharian hanya rebahan sambil scrolling.
Yang menarik, anak muda sekarang mulai menjadikan istilah brain rot sebagai bentuk self-awareness. Mereka sadar bahwa kebiasaan digital yang berlebihan perlahan memengaruhi cara berpikir dan kualitas hidup. Karena itu, mulai muncul tren digital detox, journaling, membaca buku, sampai mengurangi screen time sebagai usaha untuk “menyembuhkan” otak dari banjir konten cepat.
Mengurangi brain rot bukan berarti harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Kuncinya adalah mengatur pola konsumsi digital agar lebih sehat. Mengurangi video pendek berlebihan, membatasi waktu scrolling, dan memberi ruang untuk aktivitas offline dapat membantu otak kembali fokus. Aktivitas seperti olahraga, ngobrol langsung, atau menikmati alam juga efektif membuat pikiran terasa lebih segar.
Di era digital sekarang, menjaga kesehatan otak sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Hiburan internet memang menyenangkan, tetapi jika dikonsumsi tanpa batas, otak bisa kelelahan tanpa disadari. Fenomena brain rot menjadi pengingat bahwa tidak semua konten yang menghibur baik untuk pikiran jika terus dikonsumsi setiap hari. (DEP/YPA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....