Kenapa Kita Sulit Percaya pada Orang setelah Kecewa
- 25 Mei 2026 08:49 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Banyak orang secara alami berubah menjadi lebih waspada dalam berinteraksi setelah mengalami kekecewaan. Hal-hal yang sebelumnya terasa mudah, seperti menaruh percaya, terbuka, atau menaruh harapan pada orang lain, tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.
Perubahan sikap ini bukan berarti seseorang kehilangan keinginan untuk memiliki hubungan yang dekat, melainkan muncul sebagai respons protektif karena adanya ketakutan mendalam untuk merasakan sakit yang sama kembali.
Saat seseorang pernah disakiti, otak akan menyimpan pengalaman tersebut sebagai sebuah ancaman nyata bagi keselamatan emosional. Sebagai bentuk pertahanan diri, otak secara otomatis akan memicu kewaspadaan tinggi ketika menghadapi situasi serupa di masa depan. Akibatnya, menjadi sulit untuk memberikan kepercayaan kepada orang baru, bahkan ketika orang tersebut belum tentu akan melakukan kesalahan yang sama seperti pengalaman di masa lalu.
Selain aspek protektif, rasa kecewa sering kali memicu keraguan terhadap kemampuan diri sendiri dalam menilai orang lain. Muncul rasa takut akan salah langkah, takut dianggap terlalu naif, atau takut terlihat bodoh karena terlalu banyak berharap. Untuk menghindari risiko tersebut, menjaga jarak atau menarik diri sering dipilih sebagai strategi untuk meminimalisasi kemungkinan terluka di kemudian hari.
Dalam upaya menjaga diri, banyak orang secara tidak sadar membangun "tembok" pelindung untuk menciptakan rasa aman. Meskipun tembok ini berfungsi menghalau potensi rasa sakit, ia juga secara bersamaan menghambat masuknya kedekatan dan hal-hal positif yang sebenarnya dibutuhkan untuk pertumbuhan emosional. Tanpa disadari, upaya perlindungan ini justru membatasi ruang gerak seseorang dalam membentuk koneksi yang sehat dengan orang lain.
Namun, penting untuk diingat bahwa setiap individu memiliki karakter yang berbeda dan tidak semua orang akan mengulangi kesalahan yang sama seperti masa lalu. Membangun kembali kepercayaan memang memerlukan waktu dan keberanian untuk mengambil risiko kembali. Menutup diri sepenuhnya mungkin terasa aman, namun hal itu justru mencegah seseorang untuk merasakan pengalaman hidup yang lebih bermakna di masa depan. (STP/YPA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....