Sejarah Polisi Wanita Indonesia, Berawal dari Bukittinggi
- 03 Apr 2026 05:45 WIB
- Bukittinggi
RRL.CO.ID,Bukittinggi - Sejarah lahirnya Polisi Wanita (Polwan) di Indonesia tidak terlepas dari kebutuhan mendesak pada awal tahun 1948. Saat itu, aparat kepolisian menghadapi berbagai kesulitan, khususnya dalam melakukan pemeriksaan terhadap korban, tersangka, maupun saksi perempuan, terutama terkait pemeriksaan fisik dalam penanganan perkara.
Kondisi tersebut membuat polisi kerap meminta bantuan istri anggota maupun pegawai sipil perempuan untuk menjalankan tugas tersebut. Melihat situasi ini, organisasi perempuan serta organisasi wanita Islam di Bukittinggi berinisiatif mengusulkan kepada pemerintah agar perempuan dilibatkan secara resmi dalam pendidikan kepolisian.
Usulan tersebut mendapat respons positif dari Djawatan Kepolisian Negara untuk Sumatera yang berkedudukan di Bukittinggi. Kesempatan pun dibuka bagi perempuan-perempuan terpilih untuk mengikuti pendidikan kepolisian. Pada 1 September 1948, sebanyak enam siswa wanita resmi mengikuti pendidikan inspektur polisi di Sekolah Polisi Negara (SPN) Bukittinggi bersama 44 siswa laki-laki.
Keenam perintis tersebut adalah Mariana Saanin Mufti, Nelly Pauna Situmorang, Rosmalina Loekman, Dahniar Sukotjo, Djasmainar Husein, serta Rosnalia Taher. Sejak saat itu, tanggal 1 September diperingati sebagai Hari Polwan.
Namun, perjalanan pendidikan mereka sempat terhenti akibat pecahnya Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948, yang menyebabkan kegiatan pendidikan di Bukittinggi dihentikan.
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia, keenam calon perwira Polwan kembali melanjutkan pendidikan pada 19 Juli 1950 di SPN Sukabumi. Mereka mendapatkan berbagai materi, mulai dari ilmu kemasyarakatan, psikologi, sosiologi, hingga latihan fisik seperti jiu jitsu, judo, dan latihan militer.
Pada 1 Mei 1951, keenamnya berhasil menyelesaikan pendidikan dan mulai bertugas di Djawatan Kepolisian Negara serta Komisariat Polisi Jakarta Raya. Mereka mengemban tugas khusus terkait perempuan dan anak, termasuk menangani kasus kejahatan, membantu pemeriksaan perkara yang melibatkan perempuan, serta memberantas perdagangan manusia dan praktik pelacuran.
Seiring perkembangan waktu, peran dan eksistensi Polwan terus mengalami perubahan. Pada tahun 1965, pendidikan Polwan sempat diintegrasikan dengan pendidikan perwira polisi pria di Akademi Angkatan Kepolisian di Yogyakarta. Kemudian, pada 1975 dibuka pendidikan bintara Polwan di Ciputat, yang berkembang menjadi Pusat Pendidikan Polisi Wanita pada 1982, dan berubah menjadi Sekolah Polisi Wanita (Sepolwan) pada 30 Oktober 1984.
Tonggak penting lainnya terjadi pada 29 November 1986, ketika Kapolri saat itu, Mochammad Sanoesi, mengesahkan lambang resmi Polwan. Lambang tersebut mengandung berbagai makna filosofis, seperti bunga matahari yang melambangkan sifat kewanitaan, serta simbol perisai dan obor sebagai wujud pengabdian kepada negara.
Dalam perjalanan karier, sejumlah Polwan mencatatkan sejarah penting. Pada 1987, Dwi Gusiyati menjadi Kapolsek perempuan pertama di Pasar Kliwon, Solo. Kemudian pada 1991, Jeanne Mandagi menjadi perempuan pertama yang meraih pangkat Brigadir Jenderal Polisi.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah tersebut, Monumen Polwan dibangun di Bukittinggi dan diresmikan pada 27 April 1993 oleh Kapolri saat itu, Banoeroesman Astrosemitro.
Memasuki era 2000-an, peluang bagi Polwan semakin terbuka luas, termasuk kesempatan mengikuti pendidikan perwira di Akademi Kepolisian serta menduduki jabatan strategis di tubuh Polri. Hal ini menunjukkan semakin kuatnya peran perempuan dalam institusi kepolisian yang terus berkembang mengikuti tuntutan zaman.
Pada 2015, Monumen Polwan di Bukittinggi yang sempat mengalami kerusakan berat akhirnya dipugar. Peresmian hasil pemugaran dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Polwan ke-67 pada 1 September 2015 oleh Kapolri saat itu, Badrodin Haiti.
Kini, Polwan tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi telah menjadi bagian integral dari Kepolisian Republik Indonesia, dengan peran strategis dalam menjaga keamanan, menegakkan hukum, serta memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional dan humanis. (ER/YPA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....