Monitoring Rutin Jadi Kunci Keberhasilan Transplantasi Terumbu Karang
- 26 Mar 2026 20:32 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Keberhasilan pemulihan ekosistem laut di Nagari Sungai Pinang, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan tidak hanya bergantung pada proses penanaman bibit terumbu karang. Aktivis lingkungan dari komunitas Andespin menekankan bahwa pemantauan atau monitoring rutin menjadi faktor paling krusial dalam keberlanjutan transplantasi.
David Andespin, Aktivis Kelautan Andespin (Anak Desa Sungai Pinang) dalam dialog SABAI (Selamatkan Alam Bersama Aksi Inspiratif) di Programa 4 RRI Bukittinggi menegaskan, tanpa perawatan yang konsisten, bibit karang yang telah ditanam sangat rentan mati akibat tertutup sedimen daratan. Oleh karena itu, tim penyelam Andespin melakukan pembersihan media tanam secara berkala setiap satu bulan sekali.
"Banyak pihak hanya melakukan penanaman secara seremonial, padahal terumbu karang butuh perawatan intensif untuk bisa tumbuh dan bertahan hidup," ujar David.
Proses monitoring ini meliputi pembersihan lumut serta pengangkatan bekas alat tangkap nelayan yang tersangkut di rak besi. Selain pembersihan fisik, tim juga melakukan pendataan terhadap laju pertumbuhan karang yang rata-rata mencapai 1 hingga 2 sentimeter per tahun.
Data pertumbuhan tersebut sangat penting untuk mengevaluasi efektivitas metode transplantasi yang diterapkan di lokasi Batu Kajang. Monitoring yang disiplin terbukti mampu menekan angka kematian bibit karang secara signifikan di area konservasi seluas 5,3 hektar.
"Terumbu karang itu hewan, bukan tumbuhan; jika permukaannya tertutup sedimen dari darat, mereka tidak bisa bernapas dan akan mengalami pemutihan massal." tegasnya.
David menjelaskan bahwa gangguan alam seperti banjir dan badai seringkali membawa lumpur yang membahayakan kelangsungan hidup terumbu karang. Tim harus segera turun melakukan penyelaman pasca cuaca buruk untuk memastikan pori-pori karang tetap bersih dari material sedimen.
Seluruh anggota komunitas yang berjumlah enam orang kini telah memiliki lisensi selam profesional untuk mendukung tugas berat ini. Keahlian teknis tersebut memastikan proses rehabilitasi laut dilakukan sesuai dengan standar konservasi kelautan yang berlaku secara nasional.
Upaya yang dilakukan selama lebih dari sepuluh tahun ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian lokal mampu menyelamatkan aset masa depan. Konsistensi dalam menjaga titik kritis ini diharapkan dapat terus mendapat dukungan penuh dari pemerintah maupun mitra lingkungan lainnya. (DR/YPA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....