KBRN, Bukittinggi: Franklin Edmundo Rijkaard (lahir 30 September 1962) adalah mantan pemain sepak bola profesional asal Belanda sekaligus mantan manajer yang berposisi sebagai gelandang bertahan. Ia dianggap sebagai salah satu gelandang terbaik sepanjang sejarah sepak bola. Surat kabar Inggris The Daily Telegraph pernah menggambarkannya sebagai "pemain penuh gaya dengan silsilah sempurna."
Rijkaard mengawali karier bermainnya bersama Ajax sebelum melanjutkan ke Real Zaragoza dan AC Milan. Bersama Ajax, ia meraih lima gelar Eredivisie serta trofi Liga Champions pada musim 1994–1995. Di AC Milan, ia turut memenangkan gelar Serie A dan dua gelar Piala Eropa (kini Liga Champions) pada musim 1988–1989 dan 1989–1990.
Sebagai pemain, Rijkaard mencatatkan 73 penampilan bersama tim nasional Belanda. Ia menjadi bagian dari skuad yang menjuarai Euro 1988 dan meraih peringkat ketiga di Euro 1992. Selain itu, ia juga tampil di Piala Dunia 1990 dan 1994.
Dalam karier manajerialnya, Rijkaard paling dikenal atas keberhasilannya bersama Barcelona. Selama lima tahun melatih klub Spanyol tersebut, ia memenangkan dua gelar La Liga (2004–05, 2005–06) serta Liga Champions pada musim 2005–06. Selain Barcelona, ia juga pernah melatih tim nasional Belanda, Sparta Rotterdam, Galatasaray, dan tim nasional Arab Saudi. Kini, ia dikabarkan mendapat tawaran untuk melatih Timnas Indonesia dengan kontrak dua tahun, yang dapat diperpanjang jika berhasil membawa perkembangan signifikan bagi Tim Garuda.
Sebagai pelatih, filosofi utama Rijkaard adalah sepak bola menyerang yang dimainkan secara kolektif dan kohesif. Baginya, pendekatan ini tidak hanya mendukung kemenangan tim, tetapi juga memberikan hiburan kepada para penonton. Gaya kepelatihannya terinspirasi oleh tradisi sepak bola Belanda yang dirintis oleh tokoh seperti Rinus Michels dan Johan Cruyff. Michels pernah melatih Rijkaard dan Cruyff dalam tim nasional Belanda, sementara Cruyff kemudian menjadi pelatih Rijkaard di level klub. Meski demikian, Rijkaard percaya bahwa sepak bola modern memerlukan inovasi dan tidak bisa sepenuhnya meniru gaya para pendahulunya.
Ia menyatakan: "Anda memperoleh banyak pelajaran dari masa lalu. Anda mungkin mengingatnya saat menjadi pelatih, tetapi saya sangat percaya bahwa Anda tidak bisa meniru siapa pun. Keputusan yang diambil oleh pelatih hebat di masa lalu belum tentu berhasil di era sekarang."
Rijkaard juga dikenal karena ketenangan dan stabilitasnya sebagai pelatih. Berbeda dari temperamennya semasa bermain, ia jarang memunculkan kontroversi di media dan lebih fokus menciptakan suasana positif dalam timnya. Gaya menyerangnya terlihat jelas saat melatih Barcelona, khususnya pada musim 2004–05 dan 2005–06. Ia sering menggunakan formasi 4–3–3 yang menekankan kreativitas di lini depan serta kerja sama optimal antara gelandang dan penyerang. Dalam formasi ini, timnya berusaha mempertahankan penguasaan bola di area lawan, memberi tekanan tinggi, dan memanfaatkan serangan balik secara efektif. Ronaldinho menjadi salah satu kunci sukses pendekatan ini, berperan sebagai poros utama serangan tim.
Dengan pendekatan dan filosofinya yang khas, Rijkaard meninggalkan jejak mendalam sebagai salah satu pelatih modern yang konsisten mengutamakan sepak bola menyerang dan estetis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....