Kato Nan Ampek Tetap Revefan
- 22 Mar 2024 00:49 WIB
- Bukittinggi
KBRN, Bukittinggi : Minangkabau terkenal dengan budaya dan adat yang kental. Masyarakat di Minangkabau sendiri memiliki filosofi yang berbunyi yaitu Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Yang diartikan adat yang ada di minang harus sejalan dengan ajaran agama islam. Dari adat dan syariat yang ada diminangkabau melahirkan tata karma dalam berkomunikasi yaitu disebut dengan Kato Nan Ampek.
Arti Kato Nan Ampek yaitu adab dan sopan santun ketika berkumunikasi dengan orang lain. Kato sendiri dibedakan atas kato mandaki. Kato malereang, kato manurun, kato mandata. Adat Minangkabau sangat mengutamakan rasa hormat kepada sesama masyarakat di lingkungan sekitar. Dalam berbicara Orang diminang sendiri berkomunikasi harus berhati-hati dengan lawan bicara, agar tidak menyinggung perasaan orang lain saat kita berbicara. Berikut inilah pembahasan tentang kato nan ampek.
Arti Kato Nan Ampek yaitu adab dan sopan santun ketika berkumunikasi dengan orang lain. Kato sendiri dibedakan atas kato mandaki. Kato malereang, kato manurun, kato mandata. Adat Minangkabau sangat mengutamakan rasa hormat kepada sesama masyarakat di lingkungan sekitar. Dalam berbicara Orang diminang sendiri berkomunikasi harus berhati-hati dengan lawan bicara, agar tidak menyinggung perasaan orang lain saat kita berbicara. Berikut inilah pembahasan tentang kato nan ampek.
1). Kato mandaki
Kato mandaki merupakan bahasa yang digunakan ketika berbicara dengan yang lebih tua atau orang yang dihormati. Berbicara dengan yang lebih tua harus menggunakan kata lemah lembut dan santun, ketika orang tua berbicara kita tidak boleh memotong pembicaraannya, dan membantah selagi itu benar demi kebaikan.
Berikut contoh kato mandaki yang kita gunakan dalam berbicara dengan yang lebih tua.
Ketika menyapa orang tua laki laki dengan sebutan bapak, ayah, papa, abi, mamak, mak etek dan lain-lain.
Ketika menyapi orang tua perempuan dengan sebutan mama, amak, anduang, dan-lainnya.
Ketika menyapa saudara laki-laki ibu dengan sebutan acik, mak etek, mak tuo, mamak, uncu, mak dang dan lain-lainnya.
Ketika menyapa saudara perempuan ayah dengan sebutan etek. Mak etek, mak uwo, dan lain-lainnya.
2). Kato manurun
Kato manurun merupakan bahasa yang digunakan ketika kita berbicara dengan yang lebih muda, Seperti adik. Ketika kita berbicara kepada yang lebih kecil hendaklah berbicara dengan kasih sayang, mengajarkan kepada hal yang baik, dan menghargai. Tidak dengan cara yang kasar, berteriak, mencaci maki.
Seperti pepatah minang “Nan tuo dihormati, nan keetek di sayangi, samo gadang dibaok bakawan” Idrus hakimy, Dt. Rajo Panghulu.
Contoh menggunaan kato manurun.
Orang tua ketika berbicara dengan anaknya
Pembicaraan guru kepada muridanya
Kakak dengan adiknya dan
Mamak dan kemenakannya
). Kato malereang
Kato malereang merupakan bahasa yang digunakan kekita memliki hubungan sesama kekerabatan atau kepada orang yang kita segani. Kato melereang hampir sama dengan kato mandaki yang juga digunakan kepada yang lebih tua, namun perbedaannya adalah berbicara dengan orang yang disegani seperti tokoh adat, agama, dan pemimpin.
Di minangkabau ketika kita menggunakan kato malereang dengan pemuka adat, biasanya mereka menggunakan kata kata kiasan dan juga kata-kata penuh makna. Oleh sebab itu kita harus memikirkan terlebih dahulu apa yang dikatakan ketika dengan pemuka adat.
contoh penggunaan kata malereang.
4). Kato mandata
Kato mandata merupakan bahasa yang digunakan ketika dengan teman sebaya. Biasanya kata-kata yang digunakan bebas dan sedikit kasar apalagi pertemanan antara laki laki justru dengan itu hubungan pertemanan semakin akrab. Contoh kata ganti orang pertama laki-laki adalah awak, aden, ang dan lain-lain.
Contoh kata ganti orang pertama permepuan adalah kau, piak, awak, dan lain-lain
dan wak inyo sebagai kata ganti orang ketiga.
kata wak sendiri sama artinya dengan kita .
Akan tetapi dalam beberapa waktu belakangan, ketika zaman sudah berubah, teknologi informasi mulai merajai dunia, bahasa di minangkabau mulai mengalami penurunan apalagi dikalangan anak-anak.orang minang mulai terpengaruh dengan budaya global. Membuat pengunaan kato nan ampek manjadi diangap tidak relevan lagi, padahal kalau di pahami kato nan ampek terseb akan tetarelevan karena mengandung ajaran tata karma yang baik tidak saja sesuai ddengan adat tapi juga sesuai ajaran islam. (ER)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....