Doa dan Kenangan di Musibah Banjir Bandang Silaiang Bawah

  • 30 Sep 2026 08:41 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - RRI Bukittinggi kembali menyuguhkan tayangan dokumenter yang menggugah empati bertajuk "Antara Doa dan Kenangan". Dokumenter ini menyoroti dampak psikologis, proses pemulihan, dan perjuangan bangkit para penyintas bencana banjir bandang dahsyat yang melanda kawasan Silaiang Bawah, perbatasan Padang Panjang dan Tanah Datar, pada 27 November 2025 silam.

Bencana yang membawa material lumpur, batu, dan kayu tersebut tidak hanya menghancurkan tempat tinggal, tetapi juga meninggalkan luka batin yang mendalam. Rina, salah satu penyintas bencana, mengisahkan beratnya perjuangan usai kehilangan sang suami yang tersapu arus saat berusaha menyelamatkan keluarga.

"Ayah dari anak-anak menyuruh kami mengungsi untuk menyelamatkan anak-anak, sementara ia memantau air. Kini, meski bayang-bayang trauma itu masih ada, saya harus berusaha bangkit dan tegar demi membesarkan dan mewujudkan cita-cita almarhum agar anak-anak kami menjadi anak yang saleh dan salehah," ungkapnya.

Menghadapi trauma masyarakat yang membekas, terutama pada anak-anak yang masih ketakutan saat melihat air dalam jumlah besar, pendekatan psikologis terus diupayakan. Psikolog Rasida Anggun Intan menjelaskan, pendekatan berbasis keagamaan atau faith healing memiliki peran yang sangat krusial untuk membantu pemulihan dalam masyarakat yang religius.

"Melalui faith healing, korban dibantu untuk merekonstruksi makna penderitaan, misalnya dengan melihat musibah ini sebagai ujian atau hikmah dari Tuhan. Aktivitas seperti doa, zikir, dan ibadah secara psikologis terbukti mampu menurunkan kadar stres dan menjadi faktor pelindung terhadap munculnya trauma berat atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)," jelasnya.

Rasida menambahkan, intervensi psikologis secara klinis dan terapi spiritual (faith healing) bukanlah dua hal yang saling bersaing, melainkan harus dikolaborasikan agar para penyintas mendapatkan penanganan yang komprehensif.

"Dibutuhkan sinergi tiga pilar yang kuat antara psikolog atau tenaga klinis, tokoh agama, dan komunitas. Tokoh agama memberikan pendekatan teologis yang menenangkan, sementara psikolog memantau perkembangan mental mereka secara terukur, sehingga keduanya berjalan berkesinambungan," tambahnya.

Meskipun para korban tidak akan pernah bisa melupakan sepenuhnya memori kelam tersebut, integrasi antara pendampingan psikologis dari pemerintah setempat bersama kekuatan doa dan spiritualitas perlahan membantu mereka belajar ikhlas, menerima kenyataan, dan melanjutkan hidup kembali.

Program dokumenter “Antara Doa dan Kenangan” dapat disaksikan di kanal Youtube RRI Bukittinggi https://www.youtube.com/watch?v=5lnbdH8X-a0

Penulis: Erwin Ardiansyah

Peserta MagangHub Batch-2 RRI Bukittinggi

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....