Ketika Muhammadiyah Pulang ke Bukittinggi
- 19 Sep 2026 17:00 WIB
- Bukittinggi
Oleh;
Prof. DR. H. Ismail Novel.,M.Ag
Tadi malam, ketika saya mengikuti pembukaan Regional Meeting Muhammadiyah se-Sumatera di Bukittinggi ini, tiba-tiba ingatan saya melayang jauh ke belakang, 96 tahun yang lalu. Tepatnya pada Maret 1930,

ketika Kongres Muhammadiyah ke-19 diselenggarakan di Bukittinggi. Saat itu, kongres tersebut merupakan salah satu peristiwa besar dalam perjalanan Muhammadiyah, sekaligus menjadi momentum penting bagi perkembangan gerakan pembaruan Islam di Minangkabau.
Kongres itu ternyata mendapat perhatian luar biasa dari masyarakat Minangkabau. Persiapannya melibatkan banyak tokoh dan unsur masyarakat. Ada Syekh Muhammad Jamil Jambek, Saleh Sutan Mangkuto, Syekh Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), Syekh Daud Rasyidi, dan Syekh Abbas Abdullah. Bahkan HAMKA, yang ketika itu masih sangat muda, tampil dalam kongres dengan pidato yang membahas “Agama Islam dalam Adat Minangkabau.” Bayangkan, sebuah kongres organisasi yang berpusat di Jawa mampu menyedot perhatian demikian besar dari masyarakat Minangkabau.
Bagi saya, yang paling menarik bukan hanya besarnya kongres tersebut, tetapi apa yang terjadi sesudahnya. Muhammadiyah kemudian tumbuh semakin kuat di ranah Minang.
Bukittinggi menjadi salah satu pusat penting perkembangan Muhammadiyah dan penyebarannya ke berbagai daerah di Sumatera. Nama-nama seperti AR Sutan Mansur kemudian memainkan peranan penting dalam pengembangan Muhammadiyah di Minangkabau. Sejarah menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak lagi sekadar “datang” ke Bukittinggi. Ia kemudian tumbuh bersama masyarakatnya.
Karena itu, saya merasa ada sebuah lingkaran sejarah yang sedang bertemu. Tahun 1930 Muhammadiyah datang ke Bukittinggi melalui Kongres ke-19. Hari ini, 2026, Muhammadiyah kembali berkumpul di kota yang sama melalui Regional Meeting Muhammadiyah se-Sumatera.
Jarak waktunya hampir satu abad, tetapi semangatnya terasa bersambung. Dari para ulama, saudagar, pendidik, pemuda dan masyarakat Minangkabau dahulu, hingga generasi Muhammadiyah hari ini.
Mungkin karena itulah saya merasa bahwa hubungan Muhammadiyah dengan Bukittinggi bukan lagi sekadar hubungan antara organisasi dan tempat kegiatan.
Ada sejarah, ada ingatan, ada perjuangan, dan ada ikatan batin yang panjang. Bukittinggi pernah menjadi tuan rumah Muhammadiyah pada 1930. Setelah itu, Muhammadiyah seakan menyatu dengan denyut kehidupan kota ini.
Maka ketika Muhammadiyah kembali berkumpul di Bukittinggi hari ini, saya membayangkan: barangkali bukan Muhammadiyah yang datang ke Bukittinggi, tetapi Muhammadiyah sedang pulang ke rumah sejarahnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....