Maulid Nabi di Padang Tae, Kompol Syafrizen Ajak Jamaah Hidupkan Akhlak Rasulullah

  • 25 Agt 2026 19:24 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Pessel - Suasana penuh haru dan kesejukan menyelimuti Masjid Baiturrahman Padang Tae, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, saat jamaah mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dengan mengangkat tema “Melalui Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Kita Tingkatkan Keimanan, Ketaqwaan dan Akhlakul Karimah”, peringatan Maulid tidak hanya menjadi momentum mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga ajakan untuk kembali menata hati, memperbaiki ibadah dan menghidupkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut disampaikan Kompol H. Syafrizen,S.H, Datuk Rang Batuah selaku Wakil Kepala Polres Pesisir Selatan mewakili Kapolres Pessel dalam tausiyahnya yang turut menghadirkan Ustadz Zen Hoki (UZH).

Di hadapan jamaah, Syafrizen mengingatkan bahwa mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan mengucapkan shalawat dan mengenang perjalanan hidup beliau.

“Maulid bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah. Maulid adalah momentum untuk mengenal Rasulullah, mencintai Rasulullah, meneladani Rasulullah dan menghidupkan sunnah Rasulullah dalam kehidupan kita,” pesannya.

Ia kemudian mengajak jamaah merenungkan firman Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab ayat 21 yang menegaskan bahwa Rasulullah SAW merupakan uswatun hasanah, teladan terbaik bagi umat manusia.

Menurutnya, kehidupan Rasulullah merupakan contoh nyata bagaimana kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang dan kelembutan diwujudkan dalam kehidupan.

“Kalau Rasulullah jujur, kita belajar jujur. Kalau Rasulullah amanah, kita belajar amanah. Kalau Rasulullah penyayang, kita belajar menyayangi. Kalau Rasulullah pemaaf, kita belajar memaafkan,” tuturnya.

Akhlak Menjadi Cermin Cinta kepada Rasulullah

Syafrizen mengingatkan bahwa ukuran kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW bukan hanya terlihat dari banyaknya shalawat yang dilantunkan, tetapi juga dari perubahan perilaku seseorang.

Ia mengutip penjelasan Sayyidah Aisyah RA ketika ditanya mengenai akhlak Rasulullah SAW. “Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur'an.”

Pesan tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa Al-Qur'an tidak hanya untuk dibaca, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan.

“Jangan sampai seseorang rajin beribadah tetapi lisannya suka menyakiti orang. Jangan sampai rajin shalat tetapi suka memfitnah. Jangan sampai rajin membaca Al-Qur'an tetapi tidak menghormati orang tua,” katanya.

Sebab, ibadah yang benar semestinya melahirkan akhlak yang semakin baik.

Allah SWT bahkan memuji langsung akhlak Rasulullah melalui QS. Al-Qalam ayat 4: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

Bagi jamaah, pesan tersebut menjadi refleksi bahwa kemuliaan seseorang bukan semata-mata diukur dari kedudukan, pangkat maupun harta, melainkan dari akhlaknya.

Dari Keluarga hingga Media Sosial

Dalam tausiyahnya, Syafrizen juga mengajak jamaah menjadikan keluarga sebagai tempat pertama untuk mempraktikkan akhlak Rasulullah.

Ia mengingatkan pentingnya menghormati orang tua, menyayangi pasangan, mendidik anak dengan kelembutan serta menghargai guru, ulama, ninik mamak dan orang yang lebih tua.

“Rumah adalah tempat pertama akhlak kita diuji,” ujarnya.

Pesan tersebut kemudian diperluas ke kehidupan masyarakat, khususnya di tengah perkembangan media sosial.

Menurutnya, perkembangan teknologi membuat seseorang bisa menyakiti orang lain hanya dengan sebuah komentar atau unggahan.

“Dulu orang bisa menyakiti dengan tangan. Sekarang orang bisa menyakiti dengan jempol,” katanya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat membiasakan tabayyun, memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.

Satu berita bohong, menurutnya, bisa merusak nama baik seseorang dan bahkan memecah persaudaraan.

Bersama Jaga Nagari dari Penyakit Sosial

Sebagai Wakapolres Pesisir Selatan, Syafrizen juga menyampaikan pesan penting mengenai keamanan dan ketertiban masyarakat.

Ia menegaskan bahwa menjaga kamtibmas bukan hanya tanggung jawab kepolisian, tetapi merupakan tanggung jawab bersama.

Masyarakat diajak bersama-sama menjaga generasi muda dari bahaya narkoba, perjudian online, minuman keras, kekerasan, kenakalan remaja, pergaulan bebas serta berbagai penyakit sosial lainnya.

“Polisi membutuhkan masyarakat, dan masyarakat membutuhkan polisi,” ujarnya.

Semangat tersebut, katanya, sejalan dengan nilai-nilai kearifan lokal Minangkabau:

“Anak dipangku, kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan.”

Dengan semangat Tungku Tigo Sajarangan, ulama, ninik mamak dan pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat membangun generasi yang beriman, berilmu dan berakhlak mulia.

“Cinta Rasul Harus Dibuktikan”

Menjelang akhir tausiyah, suasana Masjid Baiturrahman Padang Tae terasa semakin khidmat.

Syafrizen mengajak jamaah menjadikan peringatan Maulid sebagai titik perubahan dalam kehidupan.

“Kalau kita mengatakan cinta Rasulullah, buktikan dengan shalat. Buktikan dengan akhlak. Buktikan dengan kejujuran. Buktikan dengan menjaga keluarga dan masyarakat,” pesannya.

Ia mengajak seluruh jamaah memperbanyak shalawat serta berusaha mengikuti sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Peringatan Maulid akhirnya ditutup dengan sebuah pesan yang sederhana, namun penuh makna:

“Jangan biarkan Maulid hanya selesai ketika acara selesai. Biarkan cahaya Maulid terus hidup di hati kita setelah kita meninggalkan masjid ini.”

Sebab, hakikat Maulid bukan hanya tentang mengingat hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi bagaimana kecintaan kepada Rasulullah mampu mengubah perilaku manusia menjadi lebih baik.

Lebih baik shalatnya, lebih lembut lisannya, lebih hormat kepada orang tua, lebih sayang kepada keluarga, lebih peduli kepada tetangga dan lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Maulid bukan hanya mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi momentum untuk menghidupkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan kita.

Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala ali Sayyidina Muhammad.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....