DLH Bukittinggi Edukasi 3R Siswa SMK Kesehatan Genus

  • 15 Agt 2026 08:00 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Bukittinggi - Produksi sampah di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, mencapai sekitar 80 hingga 100 ton per hari. Kondisi ini menjadi perhatian serius Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dalam mendorong masyarakat mengurangi sampah sejak dari sumbernya.

Hal tersebut disampaikan Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Muda DLH Kota Bukittinggi, Marwira Lizarni, saat memberikan edukasi pengelolaan sampah kepada siswa SMK Genus Bukittinggi dalam kegiatan Ekspedisi Hijau, Jumat (14/8/2026) pagi di kawasan Paparangan Ngarai.

Marwira menjelaskan, tingginya produksi sampah juga berdampak terhadap besarnya biaya pengelolaan. Dengan asumsi biaya pengelolaan sekitar Rp100 ribu per ton, sampah sebanyak 80 hingga 100 ton per hari membutuhkan anggaran sekitar Rp8 juta hingga Rp10 juta setiap hari.

“Kalau 80 sampai 100 ton per hari, dengan biaya Rp100 ribu per ton, tentu bisa mencapai Rp8 juta hingga Rp10 juta dalam satu hari,” ujarnya di hadapan para siswa.

Menurut Marwira, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menekan volume sampah adalah mengolah sampah organik agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.

Sampah organik, katanya, dapat diolah menjadi pupuk organik, kompos, magot maupun eco enzyme. Selain mengurangi volume sampah, pengolahan tersebut juga dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

“Dengan begitu, sampah yang dihasilkan menjadi lebih sedikit dan biaya pengelolaannya juga bisa ditekan. Selain itu, sampah tersebut dapat memberikan manfaat,” jelasnya.

Siswa Diajak Kenali Jenis Sampah

Dalam kegiatan tersebut, siswa SMK Genus tidak hanya mendapatkan materi secara teori. Mereka juga diajak mengenali dan memilah berbagai jenis sampah melalui praktik secara langsung.

Marwira memperkenalkan tiga kelompok utama sampah, yakni organik, nonorganik, serta B3 (bahan berbahaya dan beracun).

Sampah organik antara lain berupa sisa makanan dan daun-daunan yang mudah membusuk. Sementara sampah nonorganik seperti plastik, botol dan berbagai kemasan membutuhkan waktu lebih lama untuk terurai.

Adapun sampah B3 mengandung bahan berbahaya dan beracun sehingga membutuhkan penanganan khusus.

Para siswa juga dikenalkan dengan prinsip 3R, yaitu Reduce, Reuse dan Recycle.

Reduce dilakukan dengan mengurangi penggunaan barang sekali pakai. Salah satu contoh sederhananya adalah membiasakan membawa tumbler atau tempat minum sendiri serta kotak bekal.

“Misalnya kita membawa tumbler, membawa tempat minum, membawa kotak bekal. Ini merupakan salah satu cara kita mengurangi sampah yang kita hasilkan,” tuturnya.

Sementara itu, reuse dilakukan dengan menggunakan kembali barang yang masih layak pakai. Sedangkan recycle merupakan upaya mendaur ulang sampah menjadi barang atau produk yang memiliki nilai guna.

Pemilahan Dimulai dari Rumah

Marwira menegaskan, persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah maupun petugas kebersihan. Pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari rumah tangga, sekolah, dunia usaha hingga masyarakat.

Salah satu langkah paling sederhana, menurutnya, adalah memilah sampah sejak dari sumbernya.

“Tugas kita dalam membantu adalah memisahkan sampah organik dan nonorganik. Kalau sudah dipilah dari awal, pengelolaannya akan menjadi lebih mudah,” katanya.

Edukasi kepada generasi muda dinilai penting untuk membangun kesadaran sejak dini. Para siswa diharapkan tidak hanya memahami jenis dan dampak sampah, tetapi juga mampu menerapkan kebiasaan mengurangi serta memilah sampah dalam kehidupan sehari-hari.

Marwira berharap kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terus meningkat sehingga volume sampah yang dibuang dapat ditekan.

“Semoga ke depannya kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, semakin meningkat. Dengan pengelolaan sampah yang dilakukan bersama-sama, jumlah sampah yang dibuang dapat dikurangi dan lingkungan kita menjadi lebih bersih serta sehat,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....