Proyek Sabodam di Nagari Canduang Diawasi Forum Peduli Canduang Koto Laweh

  • 10 Agt 2026 21:26 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Agam - Proyek pembangunan bangunan pengendalian lahar dan sedimen Gunung Marapi (Sabodam) di aliran Sungai Batang Jabua, Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, diawasi Forum Peduli Canduang Koto Laweh.

Forum tersebut menduga terdapat pelaksanaan pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi sebagaimana tercantum dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB). Salah satu yang menjadi pengawasan adalah penggunaan sistem pencampuran beton (site mix) dalam pekerjaan pengecoran.

Sekretaris Forum Peduli Canduang Koto Laweh, Budi Anda, mengatakan pihaknya menemukan adanya perbedaan antara dokumen RAB dengan pelaksanaan di lapangan. Berdasarkan RAB yang mereka temukan, pekerjaan pengecoran menggunakan beton ready mix dengan mutu FC 20 dan FC 15.

Menurut Budi Anda, berdasarkan keterangan pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V dan kontraktor pelaksana, pengecoran dilakukan menggunakan sistem site mix.

“Ini menjadi pertanyaan bagi kami, kenapa yang sudah tertulis di RAB dan analisis pekerjaan tersebut dikerjakan dengan ready mix, kemudian diganti dengan site mix,” ujar Budi Anda didampingi Ketua Forum Peduli Canduang Koto Laweh, M. Ali Sabri di Sekretariat BPC, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Budi Anda menjelaskan, pihaknya telah mengkomunikasikan sejumlah temuan di lapangan kepada pihak BWS Sumatera V. Pihaknya, akan melakukan pengawasan terhadap proyek tersebut secara komprehensif hingga pekerjaan selesai.

“Kami mengapresiasi pemerintah yang telah mengalokasikan anggaran untuk pembangunan Sabodam ini. Proyek ini sangat penting untuk menahan sedimen Gunung Marapi jika terjadi galodo seperti yang pernah terjadi sebelumnya,” sebutnya.

Budi Anda menegaskan, pengawasan dilakukan bukan untuk menghambat pembangunan, melainkan memastikan proyek yang menggunakan anggaran besar tersebut memiliki mutu sesuai perencanaan.

“Kami berharap mutu proyek ini betul-betul sesuai dengan yang telah direncanakan. Kalau pekerjaan dikerjakan asal-asalan dan tidak sesuai RAB, tentu akan berdampak terhadap masyarakat sekitar, terutama jika terjadi bencana galodo,” ucapnya.

Budi Anda juga menyebut, pada 4 Agustus lalu pihaknya telah melakukan konfirmasi kepada kontraktor terkait penggunaan site mix. Saat itu, pihak kontraktor menyampaikan mobil ready mix tidak dapat masuk ke lokasi pekerjaan karena kondisi jalan yang relatif kecil.

Oleh sebab itu, Forum Peduli Canduang Koto Laweh meminta BWS Sumatera V melakukan pengawasan secara ketat terhadap pekerjaan tersebut.

“Kami menuntut pihak BWS Sumatera V betul-betul mengawasi pekerjaan sesuai RAB yang telah direncanakan. Kami akan terus mengawasi proyek ini sampai selesai,” tegasnya.

Terpisah, Konsultan Pelaksana proyek, Legiono, membantah dugaan pekerjaan tersebut tidak sesuai spesifikasi. Ia menegaskan, sistem pencampuran beton yang digunakan tetap memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan dalam pekerjaan.

Menurut Legiono, pengecoran dapat dilakukan menggunakan ready mix maupun sistem site mix yang dalam pelaksanaan proyek tersebut menggunakan metode batching plant lapangan (batching plong).

“Kalau menggunakan batching plant, kita membeli beton ready mix dari pihak luar. Sedangkan batching plong, beton kita olah sendiri dan dibawa ke lokasi pengecoran menggunakan truk mixer berukuran tujuh meter kubik,” jelas Legiono, didampingi Kontraktor Pelaksana Subur Berkah KSO, Indra Affandi, Senin, 10 Agustus 2026.

Legiono memastikan beton yang dihasilkan tetap memenuhi mutu FC 15 dan FC 20 sesuai kebutuhan pekerjaan. Untuk menjaga kualitas, kata Legiono, setiap satu truk beton diambil satu sampel menggunakan cetakan silinder untuk dilakukan pengujian.

“Sampel silinder ini kita tes di dua laboratorium. Satu di laboratorium kita sendiri dan satu lagi kita bawa ke laboratorium UPTD untuk menentukan kualitas beton yang kita hasilkan,” ujarnya.

Legiono menjelaskan, pengujian sampel dilakukan dengan melibatkan pihak kontraktor dan konsultan pengawas. Material yang digunakan dalam proses pencampuran beton antara lain pasir, split, dan semen.

“Kita tidak menggunakan material setempat karena belum berizin. Kita menggunakan material dari supplier. Untuk memakai material setempat harus kita urus izinnya terlebih dahulu,” terangnya.

Legiono menegaskan pihak pelaksana berkomitmen menjaga mutu pekerjaan. Menurutnya, penggunaan sistem batching plong tidak berarti mengurangi kualitas beton yang digunakan dalam pembangunan Sabodam.

“Untuk mutu, walaupun kami menggunakan batching plong, kami tidak mengurangi kualitas. Material seperti pasir, split, dan semen sangat kami perhatikan. Konsultan pengawas juga berkomitmen menjaga mutu pekerjaan,” jelasnya.

Pantauan RRI di lokasi, terlihat sejumlah material proyek yang ditumpuk, di antaranya semen, pasir dan split. Selain itu, terdapat satu unit truk mixer berkapasitas sekitar tujuh meter kubik dan satu unit ekskavator.

Tumpukan material tersebut berada sekitar 100 meter dari lokasi pengecoran. Akses jalan menuju lokasi proyek juga terlihat dapat dilalui truk molen roda 10.

Bangunan Sabodam tersebut dirancang terdiri dari tiga tingkat. Struktur Sabodam pertama memiliki lebar sekitar 20 meter, sedangkan bagian paling bawah memiliki lebar sekitar 14 meter dengan ketinggian bangunan mencapai sekitar 12 meter.

Proyek Sabodam di Nagari Canduang Koto Laweh merupakan bagian dari proyek bernilai sekitar Rp249,8 miliar yang dilaksanakan di sejumlah lokasi di Kabupaten Agam, dan Kabupaten Tanah Datar. (YPA/AGZ)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....