Saiful Bahri, Musisi Minang Mengukir Sejarah Indonesia Malaysia
- 21 Jul 2026 07:27 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittnggi – Nama Saiful Bahri tercatat sebagai salah satu musisi Indonesia yang memberikan pengaruh besar dalam perkembangan musik di Indonesia maupun Malaysia.
Komposer, konduktor, sekaligus penulis lagu kelahiran Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, pada 19 September 1924 ini dikenal sebagai sosok di balik sejumlah karya musik bersejarah, termasuk keterlibatannya dalam penggubahan lagu kebangsaan Malaysia, Negaraku.
Saiful Bahri merupakan putra pasangan Ilyas Datuk Tunggak dan Luki dari suku Caniago. Bakat musiknya mulai berkembang saat menempuh pendidikan di INS Kayutanam. Pada 1941, ia merantau ke Jakarta dan bergabung dengan Orkes Studio Jakarta (OSD) sebagai pemain saksofon dan biola.
Kariernya terus berkembang hingga dipercaya memimpin OSD pada dekade 1950–1960. Bersama orkes tersebut, Saiful menghasilkan berbagai aransemen musik untuk rekaman piringan hitam maupun ilustrasi film produksi Perfini, Persari, Bintang Surabaya, dan Golden Arrow. Ia juga pernah tampil sebagai penyanyi dan pemain film Terimalah Laguku pada 1952.
Dalam dunia perfilman Indonesia, Saiful Bahri dikenal sebagai penata musik film musikal Tiga Dara yang dirilis pada 1956. Atas karyanya tersebut, ia meraih Piala Citra untuk kategori Tata Musik Terbaik pada Festival Film Indonesia II tahun 1960.
Aransemen musik Saiful dikenal sederhana namun kuat secara musikal. Dalam proses kreatifnya, ia didukung sejumlah musisi besar Indonesia, di antaranya Ismail Marzuki, Mochtar Embut, Jos Cleber, Iskandar, dan Abubakar Alhabsyi.
Pada masa Konfrontasi Indonesia–Malaysia tahun 1963, Saiful Bahri menetap di Malaysia dan berkiprah di sejumlah lembaga seni dan kebudayaan, seperti Orkes Radio Malaya dan Filem Negara Malaysia. Di negara tersebut, ia dikenal luas melalui karya-karyanya, termasuk keterlibatannya dalam penggubahan lagu kebangsaan Negaraku yang mulai digunakan pada 1957.
Selain itu, Saiful juga menciptakan lagu mars militer Malaysia Prajurit Tanah Air serta sejumlah lagu populer, seperti Berjaya, Muhibbah, Kenangan Masa, Fajar Harapan, Surat Tak Bernama, Serunai di Waktu Malam, dan Semalam di Malaya. Ia juga menggubah lagu resmi negara bagian Selangor berjudul Duli Yang Maha Mulia serta lagu negeri Melaka Melaka Maju Jaya.
Selama berkarya di Malaysia pada masa Konfrontasi, Saiful Bahri diketahui menggunakan nama samaran Surya Buana. Nama tersebut dipakai untuk menghindari sorotan akibat situasi politik yang berkembang saat itu.
Saiful Bahri wafat di Tokyo, Jepang, pada 5 Desember 1976 ketika sedang mengerjakan ilustrasi musik untuk film Wulan di Sarang Penyamun. Jenazahnya kemudian dipulangkan ke Indonesia dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta.
Hingga kini, nama Saiful Bahri dikenang sebagai salah satu maestro musik Indonesia yang berhasil meninggalkan jejak penting dalam sejarah musik Asia Tenggara melalui karya-karya yang melintasi batas negara. (ER/YPA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....