Zulhijjah Menanti: Membangun Kedekatan Ilahi di Masjid Ansharullah
- 10 Mei 2026 07:45 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Payakumbuh - Seiring menuju berakhirnya waktu Dhuha jamaah mulai memadati selasar Masjid Ansharullah Muhammadiyah, Ahad (10/5/2026). Di tengah udara sejuk yang masih menyelimuti kota, ratusan warga Muhammadiyah berkumpul dalam balutan ukhuwah untuk mengikuti Pengajian Daerah.
Ketua Majelis Tabligh, Tarjih, dan Tajdid Muhammadiyah kota Payakumbuh, Ustadz Ersis Warman, SHI., menyebut agenda kali ini terasa istimewa, bukan sekadar rutin, melainkan sebuah persiapan batin menjemput tamu agung yang sebentar lagi tiba: bulan Zulhijjah.

Hadir sebagai narasumber, Ustadz Dr. Beni Firdaus, MA. Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi sekaligus Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bukittinggi ini membawakan pesan yang menggugah tentang momentum berharga pasca-Ramadan.“Zulhijjah adalah bulan di mana Allah Ta'ala bersumpah demi sepuluh harinya dalam Al-Qur’an. Ini adalah isyarat betapa dahsyatnya waktu tersebut,” ujar Ustadz Beni di hadapan jamaah yang menyimak dengan khidmat.
Spiritualitas yang "Sunyi"
Dalam taushiyahnya, Ustadz Beni menggarisbawahi sebuah refleksi menarik. Jika Ramadan dirayakan dengan gegap gempita komunal—buka bersama, tarawih berjamaah, hingga tadarus kelompok—Zulhijjah justru menawarkan dimensi spiritualitas yang lebih personal.
“Mungkin itu sebabnya banyak dari kita yang belum merasakan getaran Zulhijjah sekuat Ramadan. Karena ibadah di sepuluh hari pertama Zulhijah lebih banyak bersifat individu; tentang perenungan, dzikir dalam kesendirian, dan dialog intim antara hamba dengan Sang Pencipta,” jelasnya.Padahal, menurutnya, sepuluh hari pertama Zulhijjah adalah puncaknya amal saleh. Bahkan jihad yang paling utama sekalipun tak mampu menandingi pahala amal di hari-hari ini, kecuali bagi mereka yang syahid dengan seluruh harta dan jiwanya. Di sinilah letak keistimewaan yang kerap terlewatkan: berkumpulnya rukun Islam mulai dari shalat, puasa, sedekah, hingga haji dalam satu waktu.
Menghapus Dosa Dua Tahun
Bagi jamaah yang tidak berkesempatan berangkat ke tanah suci, Ustadz Beni mengingatkan bahwa pintu rahmat tetap terbuka lebar di tanah air. Salah satu kuncinya adalah Puasa Arafah pada 9 Zulhijjah.“Allah paham bahwa manusia tidak pernah steril dari dosa. Maka, Puasa Arafah disiapkan sebagai 'pembersih'. Harapannya luar biasa: mampu menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang,” papar Ustadz Beni mengutip hadis riwayat Muslim.
Beliau mengajak jamaah untuk merapikan kembali jadwal ibadah yang mungkin sempat kendur pasca-Idul Fitri. Zulhijjah adalah momentum taubat sekaligus perbaikan kualitas shalat.
Makna Kedekatan (Qurban)
Menutup pengajian, Ustadz Beni membedah esensi dari ritual kurban pada 10 Zulhijjah. Kurban, yang berasal dari kata qurb, berarti kedekatan. Menyembelih hewan ternak bukan sekadar ritual membagi daging kepada kaum duafa, melainkan simbol penyembelihan ego dan sifat kebinatangan dalam diri untuk meraih kedekatan sejati dengan Allah.
“Dengan berkurban, kita mengikuti jejak ketulusan Nabi Ibrahim 'Alaihisaalam. Ini adalah bentuk syukur sekaligus ikhtiar untuk menjadi lebih dekat (taqarrub) kepada-Nya,” pungkasnya.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah kota Payakumbuh, Ustadz Dr. Irwandi Nashir kepada RRI menyampaikan bahwa pihaknya akan terus mengintensifkan dan memasifkan kajian dan sosialisasi produk-produk putusan tarjih Muhammadiyah. "Pada pengajian daerah kali ini kami juga memberikan secara cuma-cuma kepada jamaah buku tuntunan ibadah di bulan Zulhijjah menurut putusan tarjih Muhammadiyah, " ungkapnya.
Seiring berakhirnya pengajian, diharapkan jamaah meninggalkan Masjid Ansharullah dengan membawa pengetahuan dannbekal spiritual baru. Di bawah langit Payakumbuh, ada tekad yang tumbuh: menjadikan Zulhijjah tahun ini bukan sekadar perayaan, melainkan perjalanan batin menuju ridha Ilahi.()
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....