Ketua TP PKK Payakumbuh Ajak Perempuan Olah Sampah Jadi Bernilai Ekonomi
- 22 Apr 2026 20:34 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Payakumbuh – Ketua TP PKK Kota Payakumbuh Eni Muis Zulmaeta menekankan bahwa sampah bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan peluang ekonomi jika dikelola dengan tepat. Hal tersebut disampaikannya dalam refleksi peringatan Hari Kartini di kediamannya pada Selasa, 21 April 2026.
Di tangan perempuan-perempuan kreatif Payakumbuh, limbah rumah tangga kini mulai bertransformasi menjadi produk bernilai jual yang mampu menopang ekonomi keluarga. Eni mendorong agar produksi dan kualitas kerajinan berbahan daur ulang terus ditingkatkan guna memperluas jangkauan pemasaran.
“Sampah bukan sekadar persoalan lingkungan, tapi peluang. Kalau dikelola dengan baik, ia bisa melahirkan nilai ekonomi,” ungkap Eni Muis Zulmaeta.
Salah satu inovasi unggulan yang tengah dikembangkan adalah pengolahan sampah organik menjadi budidaya maggot di kawasan Mancang Labu. Larva dari pengolahan sampah ini tidak hanya menghasilkan kompos, tetapi juga dimanfaatkan sebagai pakan alternatif untuk ternak unggas.
Langkah ini dinilai sangat strategis untuk menekan biaya operasional peternak kecil yang selama ini terbebani oleh tingginya harga pakan konvensional. Dengan pakan mandiri, keluarga didorong untuk lebih produktif dalam beternak ayam, baik untuk pemenuhan gizi maupun sumber pendapatan baru.
“Di sinilah peluangnya, sampah organik rumah tangga bisa kita olah menjadi pakan alternatif yang lebih ekonomis,” jelasnya.
Selain sampah organik, Eni juga menyoroti potensi pengolahan sampah anorganik menjadi bahan bangunan seperti paving blok. Program ini diharapkan dapat menjawab tantangan pengurangan limbah plastik sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di tingkat kelurahan.
Pemberdayaan perempuan di Payakumbuh juga semakin kuat melalui sektor UMKM, khususnya kerajinan tangan merajut yang melibatkan kelompok dasawisma. Produk tekstil seperti tas dan dompet karya perempuan lokal kini bahkan telah merambah pasar internasional.
“Beberapa pengrajin sudah meraup omzet hingga puluhan juta rupiah, dan produknya sudah merambah mancanegara,” kata Eni dengan bangga.
Prestasi ini diperkuat dengan adanya kerja sama strategis bersama brand internasional pada tahun sebelumnya untuk memenuhi kuota ekspor bulanan. Hal ini membuktikan bahwa sentuhan budaya lokal yang dipadukan dengan kreativitas mampu bersaing di kancah global.
Bagi Eni, spirit perjuangan Kartini di masa kini harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan dampak langsung pada kemandirian ekonomi. Ia ingin membangun kesadaran kolektif bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil di ruang domestik.
“Perempuan tidak boleh hanya jadi penonton perubahan, kita harus jadi penggerak yang mengubah hal sederhana menjadi bernilai,” tegasnya.
Melalui rantai ekonomi yang terbangun dari hulu ke hilir, Payakumbuh optimis dapat menjadi daerah pemasok kebutuhan pangan dan kerajinan yang mandiri. Eni berharap konsistensi para perempuan ini menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mengelola potensi lingkungan secara cerdas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....