Wakapolres Pessel Menggugah Hati Jaga Kamtibmas Bersama
- 18 Apr 2026 23:29 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Pesisir Selatan — Suasana religius dan penuh kekhidmatan menyelimuti kegiatan tausiah yang digelar di Mushala Al-Mukhlisin pada Sabtu malam (18/4/2026). Dalam kesempatan tersebut, Wakapolres Pesisir Selatan, Kompol Syafrizen, SH, Datuk Rang Batuah, hadir mewakili Kapolres sebagai penceramah utama dengan mengangkat tema “Kamtibmas Nagari Tanggung Jawab Bersama.”
Kegiatan ini dihadiri oleh tokoh masyarakat, pemuda, alim ulama, serta warga setempat yang memadati mushala. Tidak sekadar menjadi ceramah keagamaan biasa, tausiah tersebut menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) berbasis nilai-nilai agama dan budaya Minangkabau.

Menyatukan Nilai Agama dan Keamanan Sosial
Dalam penyampaiannya, Kompol Syafrizen menekankan bahwa menjaga kamtibmas bukan hanya tugas aparat kepolisian, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat. Ia mengajak masyarakat untuk kembali menguatkan peran sosial dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam mencegah berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merusak tatanan nagari.
Menurutnya, nilai-nilai agama sejatinya telah memberikan pedoman yang jelas dalam menjaga kehidupan sosial yang harmonis. Ia pun mengutip pesan penting dari Surah Al-Maidah yang mengingatkan tentang bahaya sikap membiarkan kemungkaran.
“Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa seseorang bisa dianggap durhaka dan melampaui batas ketika ia membiarkan kemungkaran terjadi tanpa ada upaya untuk mencegahnya,” ungkapnya di hadapan jamaah.
Pesan ini, lanjutnya, sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini, di mana tantangan terhadap keamanan dan moral masyarakat semakin kompleks. Sikap apatis atau tidak peduli terhadap lingkungan sekitar justru dapat membuka ruang bagi berbagai bentuk pelanggaran hukum dan norma sosial.
Peran Aktif Masyarakat dalam Menjaga Nagari
Kompol Syafrizen menegaskan bahwa konsep nagari di Sumatera Barat memiliki kekuatan sosial yang unik, di mana peran niniak mamak, alim ulama, dan cadiak pandai menjadi pilar utama dalam menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat.
Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya saling mengingatkan dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Menurutnya, tindakan kecil seperti menegur dengan cara baik, memberikan nasihat, hingga melaporkan potensi gangguan keamanan merupakan bagian dari kontribusi nyata dalam menjaga kamtibmas.
“Jangan sampai kita menjadi masyarakat yang hanya menjadi penonton. Ketika ada penyimpangan, kita diam. Ketika ada masalah, kita memilih tidak peduli. Inilah yang harus kita ubah,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam menjaga masa depan nagari. Pemuda diharapkan tidak hanya menjadi penerus, tetapi juga agen perubahan yang mampu membawa nilai-nilai positif di tengah tantangan modernisasi.
Kamtibmas sebagai Fondasi Pembangunan
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keamanan dan ketertiban merupakan fondasi utama dalam pembangunan. Tanpa situasi yang aman dan kondusif, berbagai program pembangunan tidak akan berjalan optimal.
Oleh karena itu, sinergi antara masyarakat dan aparat keamanan menjadi hal yang mutlak diperlukan. Ia mengapresiasi masyarakat Kecamatan Lengayang yang selama ini dinilai cukup aktif dalam menjaga stabilitas lingkungan.
Namun demikian, ia mengingatkan agar semangat tersebut terus dipertahankan dan ditingkatkan, terutama di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.
Menghidupkan Nilai Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Dalam penutup tausiahnya, Kompol Syafrizen mengajak jamaah untuk menghidupkan kembali nilai amar ma’ruf nahi munkar dalam kehidupan sehari-hari—mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Ia menegaskan bahwa upaya menjaga kamtibmas tidak selalu harus dilakukan dengan tindakan besar. Hal-hal sederhana seperti menjaga akhlak, memperkuat silaturahmi, serta membangun komunikasi yang baik antarwarga sudah menjadi langkah penting.
“Kalau kita semua mengambil peran, sekecil apa pun itu, maka nagari kita akan menjadi tempat yang aman, nyaman, dan penuh berkah,” ujarnya.
Refleksi Bersama untuk Masa Depan Nagari
Kegiatan tausiah ini ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan dan perlindungan bagi masyarakat. Warga yang hadir tampak antusias dan mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga dari tausiah tersebut.
Momentum ini menjadi pengingat bahwa keamanan bukan hanya urusan aparat, tetapi juga cerminan dari kepedulian sosial masyarakat. Dengan menggabungkan nilai agama dan kearifan lokal, diharapkan nagari-nagari di Pesisir Selatan dapat terus menjadi lingkungan yang harmonis, aman, dan berdaya.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, pesan yang disampaikan malam itu terasa begitu relevan—bahwa diam terhadap kemungkaran bukanlah pilihan, dan kepedulian adalah kunci utama menjaga kehidupan bersama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....