Menggemakan Risalah Ri'ayah: Memelihara yang Telah Dibina
- 12 Apr 2026 05:35 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Padang Panjang - Ketika fajar menyingsing di ufuk Serambi Mekkah, dinginnya Padangpanjang seketika luruh oleh hangatnya ukhuwah yang mengalir dari selasar Masjid Nurul Huda Silaing Bawah. Pada pagi yang bening, 12 April 2026 atau 24 Syawal 1447 H, masjid percontohan Sumatera Barat ini bertransformasi menjadi oase spiritual bagi ratusan jamaah.
Di bawah kubah yang menjadi simbol inovasi pelayanan umat tersebut, sebuah perhelatan batin bertajuk Shubuh Mubarakah digelar untuk menjemput cahaya ilmu yang melampaui sekadar rutinitas ibadah.

Dr. H. Irwandi Nashir, dosen dari UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, tampil menjelaskan risalah Ri’ayah—sebuah konsep tentang cara memelihara apa yang telah dibina. "Ini ajaran penting yang harus dipahami dan diwujudkan," tegas Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) kota Payakumbuh itu. Mengutip Surah Al-Hadid ayat 27, Dr. Irwandi mengingatkan tentang bahaya menjadi manusia yang abai terhadap syariat Allah setelah sebelumnya diberikan nikmat hidayah.
Dalam uraiannya, Dr. Irwandi membedah tiga tingkatan Ri’ayah yang dapat diamalkan untuk setiap urusan, baik menyangkut hubungan dengan Allah Ta'ala, sesama manusia, dan alam semesta.

Pertama, Memelihara Suasana. Segalanya bermula dari kedalaman batin. Merujuk pada Surah Al-Fath ayat 4, beliau menjelaskan bahwa ketenangan (sakinah) adalah "tamu" agung yang Allah turunkan ke hati orang mukmin. Tugas kita adalah memelihara suasana batin agar tetap jernih, sehingga layak menjadi bejana bagi ketenangan yang diturunkan-Nya. Tanpa batin yang terjaga, amal sehebat apa pun akan kehilangan ruhnya.
Kedua, Menjaga Amal dengan Takwa. Ini adalah inti dari pemeliharaan. Dr. Irwandi menekankan bahwa menjaga amal berarti menjaga takwa dalam tiga lapisan: takwa dari syirik, takwa dari bid’ah, serta takwa dari segala maksiat beserta turunannya. Mengapa harus takwa? Sebab, Allah Ta’ala hanya menerima amal dari hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Lebih dari itu, saat kita bersungguh-sungguh memelihara takwa, maka Allah pulalah yang akan memperbaiki dan menyempurnakan amal-amal kita. Takwa adalah filter sekaligus pupuk bagi diterimanya sebuah pengabdian.
Ketiga, Menjaga Waktu. Inilah perenungan yang paling dalam. Dr. Irwandi memberikan metafora yang menggetarkan: "Waktu adalah kumpulan napas." Setiap embusan napas yang dilepaskan adalah potongan umur yang takkan kembali. Memelihara waktu berarti menghargai setiap detik sebagai ruang suci untuk terus terhubung dengan Sang Khaliq.
Keistiqomahan kegiatan ini merupakan buah dari komitmen pengurus. H. Jasriman, pengurus Masjid Nurul Huda, menuturkan bahwa ini adalah putaran ke-8 dari rangkaian Shubuh Mubarakah. "Kami ingin terus mengikat komitmen jamaah untuk memakmurkan masjid. Bukan sekadar meramaikan bangunan fisiknya, tapi menghidupkan jiwa-jiwa di dalamnya," ujarnya penuh harap.
Saat jamaah melangkah keluar meninggalkan pelataran Silaing Bawah, matahari mulai menyinari kota Serambi Mekkah. Mereka pulang membawa sebuah kesadaran sufistik: bahwa beragama adalah tentang ketulusan merawat setiap hembusan napas agar tetap berada dalam rida-Nya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....