Halal bi Halal Berdampak Satukan Hati dalam Membangun Sinergi

  • 08 Apr 2026 16:01 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Kab Tanah Datar - Suasana hangat penuh kebersamaan menyelimuti pelaksanaan acara halal bihalal yang digelar oleh Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Tanah Datar pada Rabu, 8 April 2026 Bertempat di Aula PKK Indo Jalito, Kota Batusangkar,

kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat peran perempuan dalam pembangunan daerah.

Acara tersebut menghadirkan Ustadz Dr. H. Andriyaldi, Lc., MA sebagai pemateri. Panggilan akrab beliau adalah Ustad Akhi yang dikenal dengan “@Dosen Gaul” di medsos yang ia miliki. Sosok yang dikenal sebagai dosen UIN Mahmud Yunus Batusangkar ini juga mengemban amanah sebagai Kepala Bidang Hukum dan Fatwa MUI Tanah Datar serta Kepala Bidang Tajdid dan Tarjih PDM Tanah Datar.

Dalam penyampaiannya, beliau berhasil menghidupkan suasana melalui materi yang disampaikan secara jelas, menarik, dan komunikatif, diselingi humor segar tanpa mengurangi bobot pesan yang disampaikan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua GOW Tanah Datar, dr. Dwinanda Emira, yang juga merupakan istri Wakil Bupati Tanah Datar Ahmad Fadhli, S.Psi. Selain itu, tampak pula Kepala Badan Kesbangpol serta para ketua dan pengurus organisasi wanita se-Kabupaten Tanah Datar yang antusias mengikuti rangkaian acara hingga selesai.

Suasana haru dan kehangatan menyelimuti perhelatan Halal Bi Halal yang diselenggarakan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Tanah Datar pada Rabu, 8 April 2026. Mengangkat tema “Satukan Hati, Bangun Sinergi”,

kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial pasca-Ramadan, tetapi menjadi ruang refleksi batin sekaligus penguatan komitmen bersama dalam membangun kebersamaan dan kepedulian sosial.

Dalam tausiyahnya yang bertajuk “Satukan Hati, Bangun Sinergi”, ustadz Akhi menyampaikan pesan mendalam tentang makna ketakwaan yang kerap kali disalahpahami. Ia menegaskan bahwa nilai “la’allakum tattaqun” tidak semestinya berhenti hanya pada bulan Ramadhan.

Justru, esensi yang sesungguhnya adalah bagaimana semangat ketakwaan itu terus hidup dan terjaga sepanjang sebelas bulan berikutnya, hingga kembali bertemu Ramadhan di tahun selanjutnya.

Lebih jauh, ustadz Akhi menguraikan tiga poin penting yang perlu menjadi prinsip sekaligus kesadaran dalam menjalani kehidupan.

PERTAMA, kesadaran bahwa kebahagiaan sejati hanya ditemukan dalam ketaatan kepada Allah. Ia menekankan perbedaan mendasar antara kebahagiaan dan kesenangan hidup; kesenangan bersifat sementara dan sering kali menipu, sedangkan kebahagiaan lahir dari kedekatan dan kepatuhan kepada Sang Pencipta.

KEDUA, kesadaran bahwa kesuksesan tidak mungkin diraih tanpa melalui jerih payah (masyaqqah), khususnya dalam perjuangan melawan hawa nafsu.

Dengan gaya penyampaian yang lugas namun mengena, ia menggambarkan ironi kehidupan: seseorang mampu mengangkat beban berat hingga ratusan kilogram, namun kerap merasa berat untuk sekadar mengangkat selimut ketika panggilan Subuh tiba.

KETIGA, kesadaran bahwa kedamaian sejati terletak pada kemampuan memberi maaf, bukan sekadar meminta maaf. Berdasarkan berbagai ayat Al-Qur’an, ia menegaskan bahwa Allah justru lebih banyak memerintahkan hamba-Nya untuk memaafkan dan membuka lembaran baru.

Ia juga mengutip hasil penelitian dari Harvard University yang menyimpulkan bahwa orang yang paling damai dan bahagia adalah mereka yang mampu melepaskan beban hati serta memaafkan orang lain dengan tulus.

Pesan ini kemudian diperkuat dengan kisah teladan dari zaman Nabi Muhammad saw, tentang seorang sahabat yang disebut sebagai ahli surga.

Rasa penasaran mendorong Abdullah bin Amru bin Ash untuk menginap selama tiga hari di rumah sahabat tersebut guna mencari tahu amalan istimewanya.

Namun, ia tidak menemukan ibadah luar biasa selain satu kebiasaan sederhana: setiap malam sebelum tidur, ia membersihkan hatinya dengan memaafkan semua orang.

Dari kisah ini, dapat dipetik pelajaran bahwa kejernihan hati dan keikhlasan dalam memaafkan menjadi kunci utama kemuliaan seseorang di sisi Allah. Mungkin ia tidak dikenal di bumi, namun namanya harum dan dimuliakan di langit.

Menutup rangkaian tausiyahnya, ustadz Akhi mengajak seluruh peserta—khususnya para ibu—untuk tidak segera “berpisah” dengan semangat Ramadhan yang baru saja dilalui.

Ia mengingatkan agar nilai-nilai ibadah yang telah dibangun selama bulan suci tetap dirawat dan dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mumpung bulan Syawal masih tersisa, ia pun mendorong jamaah untuk menyempurnakan amalan dengan menunaikan puasa enam hari Syawal.

Tak kalah penting, bagi yang masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan, agar segera menunaikannya di bulan ini.

Bahkan, menurut pandangan mazhab Malikiyah dan Syafi’iyah, diperbolehkan menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa Syawal—sebuah kemudahan yang patut dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Suasana kemudian mencair dalam kebersamaan yang hangat melalui sesi foto bersama dan santap sate yang menambah keakraban.

Dengan gaya khasnya yang segar, ustadz Akhi menyampaikan bahwa setidaknya ada dua ciri utama dalam tradisi halal bihalal: adanya “makan bersama” dan saling bermaaf-maafan. Dua hal sederhana namun sarat makna dalam mempererat ukhuwah dan membersihkan hati.

Kegiatan pun ditutup dengan nuansa khidmat yang berpadu dengan keceriaan. Senyum lepas yang menghiasi wajah para pengurus dan anggota GOW Tanah Datar menjadi gambaran nyata keberhasilan acara ini tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga sebagai penguat spiritual dan kebersamaan yang membekas di hati setiap peserta.

Panitia menyampaikan apresiasi tinggi atas penyampaian materi oleh ustadz Akhi yang dinilai mampu menghadirkan warna tersendiri dalam forum tersebut. Sosoknya tampil sebagai “dosen gaul” yang tidak hanya kuat dalam penguasaan ilmu, tetapi juga cakap mengemasnya dengan pendekatan yang segar dan komunikatif. Tidak banyak dai yang mampu memadukan kedalaman materi dengan sentuhan humor yang cerdas dan penuh makna, sehingga suasana tetap hidup tanpa kehilangan esensi.

Gaya penyampaian yang ringan namun berbobot itu membuat para peserta merasa dekat dan terlibat, bukan digurui. Pesan-pesan dakwah pun terserap dengan lebih mudah, meninggalkan kesan mendalam sekaligus membangkitkan semangat untuk mengamalkan nilai-nilai yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Menjelang penutupan acara, ustadz Akhi dengan gaya santai namun penuh pesan sempat menyelipkan ajakan yang mengundang senyum hadirin.

Ia mendorong para orang tua yang memiliki putra-putri agar melanjutkan pendidikan mereka di “UI Negeri”—sebutan akrab untuk UIN Batusangkar.

Dengan logat khas yang mengena, ia mengingatkan agar kita tidak selalu “bernapas ke luar badan” atau maangok ka luar badan, sementara di daerah sendiri telah hadir perguruan tinggi yang berkualitas.

Menurutnya, keberadaan UIN Mahmud Yunus Batusangkar merupakan peluang besar yang sayang jika tidak dimanfaatkan untuk masa depan anak kemenakan.

Ajakan tersebut disampaikan dengan nada sedikit berseloroh dan penuh kehangatan, apalagi ia mengaku agak “tersipu” karena sang istri, Ibu Daniar Yulianis, S.P., yang juga Ketua Salimah Tanah Datar, turut hadir di tengah-tengah acara. Momen ini pun menjadi penutup yang ringan, akrab, namun tetap sarat makna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....