Merajut Silaturahim Perantau Agam dalam Semangat Membangun Payakumbuh
- 07 Apr 2026 07:15 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Payakumbuh - Malam di Kota Payakumbuh selalu memiliki cara tersendiri untuk menjamu kenangan. Senin, 6 April 2026, udara pegunungan yang sejuk menyelimuti rumah dinas Walikota. Namun, di dalam ruangan, suasana terasa hangat dan hidup. Ratusan orang berkumpul, memulai malam dengan shalat Isya berjamaah yang khidmat. Mereka bukan sekadar kerumunan, melainkan sebuah keluarga besar yang terhimpun dalam Ikatan Keluarga Agam Bukuttinggi (IKAB) Payakumbuh Lima Puluh Kota.
Pertemuan malam itu adalah Silaturahim Syawal 1447 Hijriah, sebuah momentum yang melampaui sekadar tradisi pasca-Lebaran. Di sini, batas-batas profesi melebur.
Dari pejabat hingga pedagang, dari akademisi hingga purnawirawan, semua duduk bersila dalam derajat yang sama: sebagai anak cucu luhak Agam yang kini mengakar di jantung Kota Rendang.
Agam, bagi masyarakat Sumatera Barat, bukan sekadar titik koordinat di peta. Ia adalah tanah ibu yang melahirkan deretan pahlawan nasional dan pemikir besar bangsa. Semangat juang dan intelektualitas itu seolah terbawa dalam genetik para perantaunya. Salah satunya adalah H. Chan. Lelaki sepuh yang lahir di Payakumbuh pada tahun 1948 ini hadir dengan gurat kebahagiaan di wajahnya. Baginya, Agam adalah identitas, sementara Payakumbuh adalah rumah tempat ia menenun hidup.
Kisah serupa dialami oleh sang tuan rumah, Walikota Payakumbuh, Dr. dr. Zumaeta. Meski memimpin kota ini, ia tak pernah lupa bahwa akar asalnya berasal dari Nagari Magek, sebuah nagari yang tenang di Agam. Begitu pula dengan Muslim, Ketua IKAB yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas PUPR Kota Payakumbuh. Pria asal Maninjau ini membawa semangat "Rantau nan Pajauh" ke dalam kerja-kerja nyata membangun infrastruktur.
Menurut Muslim, M.Si., IKAB kini telah berkembang menjadi organisasi yang masif dengan anggota lebih dari 4.000 Kepala Keluarga (KK). Namun, kekuatan IKAB bukan pada jumlahnya, melainkan pada kemampuannya menjaga tali persaudaraan (tali parauatan). "Organisasi ini dibentuk untuk menghimpun potensi. Manfaatnya harus dirasakan bukan hanya oleh anggota, tapi juga oleh seluruh masyarakat Payakumbuh," ungkapnya. Menariknya, perantau Agam di sini telah melewati proses asimilasi yang indah; mereka menikah dengan warga lokal, beranak-pinak, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi Payakumbuh serta Lima Puluh Kota.
Membina yang Telah Dibina, Menjaga yang Berharga
Di tengah percakapan yang hangat, hadirlah Ustadz Dr. H. Irwandi Nashir untuk memberikan siraman rohani. Dosen UIN Bukittinggi sekaligus Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Payakumbuh ini membawa perspektif mendalam tentang makna di balik pertemuan malam itu. Mengutip Surat Annisa’ ayat 1, Irwandi menekankan bahwa perintah menjaga "tali rahim" diletakkan Allah tepat setelah perintah bertaqwa.
"Kata rahim dalam ayat tersebut disebut dalam bentuk jamak, yaitu arhaam," jelas Irwandi. Pilihan kata jamak ini mengisyaratkan sebuah filosofi besar: bahwa kaum mukmin, dari mana pun asalnya, pada hakikatnya adalah satu keluarga besar yang saling terikat secara batiniah.
Namun, bagian paling reflektif dari tausyiahnya adalah saat ia membedah konsep Ri’ayah. Sebuah risalah tentang merawat apa yang telah dibina dan menjaga apa yang berharga. Irwandi mengingatkan hadirin bahwa dalam banyak aspek kehidupan—baik itu organisasi, keluarga, maupun pembangunan kota—masalah serius sering kali bukan muncul di saat awal memulai, melainkan saat proses merawatnya.
"Pentingnya ri'ayah ini diisyaratkan dalam Surat Al-Hadid ayat 27," tambahnya. Ia membagi ri'ayah ke dalam tiga tingkatan yang relevan bagi para perantau: memelihara suasana (atmosfer persaudaraan), memelihara amal (kontribusi nyata), dan memelihara waktu (momentum untuk terus bergerak maju). Pesan ini seolah menjadi pengingat bagi IKAB agar tidak hanya besar secara kuantitas, tetapi juga kuat dalam menjaga kualitas hubungan dan kontribusinya.
Walikota Zulmaeta, dalam sambutannya, tak mampu menyembunyikan rasa haru. Sebagai seorang perantau Agam yang diberi amanah memimpin, ia melihat IKAB sebagai aset berharga. Ia mengajak seluruh elemen, terutama warga asal Agam yang memiliki latar belakang profesi beragam, untuk bahu-membahu. Fokusnya jelas: memajukan Sumber Daya Manusia (SDM) dan memperkuat ekonomi kerakyatan di Payakumbuh.

Malam itu, di bawah temaram lampu rumah dinas, musyawarah dan silaturahim itu bukan sekadar agenda formalitas tahunan. Ia adalah perwujudan dari sebuah pepatah lama: dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Warga Agam di Payakumbuh telah membuktikan bahwa mencintai tanah asal tidak menghalangi mereka untuk mencintai dan membangun tanah tempat mereka mengabdi.
Ketika acara berakhir dan para tamu mulai melangkah pulang, ada sebuah keyakinan yang tertinggal. Bahwa selama semangat ri’ayah—semangat untuk merawat dan menjaga—tetap ada di hati setiap perantau, maka sinergi antara Agam dan Payakumbuh akan terus melahirkan harmoni yang membangun masa depan lebih cerah bagi kedua daerah.()
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....