Kecerdasan di Balik Bayang Kematian: Pesan dari Mustaqim
- 06 Apr 2026 19:27 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Batusangkar – Kabut tipis masih menyelimuti Tanah Datar saat jamaah memenuhi ruang utama Masjid Mustaqim Limo Kaum yang megah itu. Di antara barisan shaf, tampak tokoh-tokoh senior seperti Prof. Dr. H. Syukri Iska dan mantan Kakan Kemenag Tanah Datar, Drs. H. Maliki. Namun, pagi itu, 7 April 2026, suasana Subuh Berkah terasa berbeda. Ada sebuah paradoks yang dilemparkan dari atas mimbar oleh Dr. H. Andriyaldi, Lc., MA.
Buya Andriyaldi, begitu ia akrab disapa, bukan sekadar akademisi ushul fiqh dari UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Di pundaknya, ia memikul tanggung jawab sebagai Ketua Bidang Fatwa dan Hukum MUI Tanah Datar, sekaligus nakhoda Bidang Tajdid dan Tarjih Muhammadiyah setempat. Di hadapan jamaah, ia membawa materi yang kerap dihindari telinga manusia modern: Zikrul Maut.

“Kita seringkali baru mengingat mati saat berdiri di tepi liang lahat, saat takziah, atau ketika raga ringkih digerogoti sakit berat,” ujar Buya Andriyaldi dengan nada tenang namun menghujam.
Menurutnya, manusia sering terjebak dalam delusi keabadian. Kematian dianggap sebagai noktah akhir yang menakutkan, padahal dalam kacamata profetik, ingatan pada maut adalah standar tertinggi intelektualitas seorang beriman.
Ia kemudian menyitir hadis riwayat Ibnu Majah tentang dialog Rasulullah SAW dengan seorang kaum Anshar. Saat ditanya siapa mukmin yang paling cerdas, jawaban Nabi bukan menunjuk pada mereka yang mahir bersilat lidah atau menumpuk harta, melainkan mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya menghadapi masa setelahnya.
“Itulah kecerdasan yang hakiki,” tegasnya. Bagi Buya Andriyaldi, Zikrul Maut bukanlah bentuk pesimisme hidup. Sebaliknya, ia adalah kompas moral.
Mengutip Imam Qurtubi dalam kitab legendaris Attazkirah, Buya menjelaskan bahwa mereka yang memelihara ingatan pada maut akan dimuliakan Tuhan dengan tiga hal. Pertama, ia akan bergegas membenahi diri melalui tobat. Kedua, ia memiliki hati yang qana’ah, tidak menjadikan dunia sebagai obsesi buta yang melampaui segalanya. Dan ketiga, munculnya kesadaran spiritual yang lebih jernih dalam beribadah.
Ceramah Subuh itu bukan sekadar ritual mingguan. Di tangan seorang intelektual seperti Buya Andriyaldi, narasi kematian diubah menjadi pengingat bagi yang hidup: bahwa kecerdasan sejati tidak diukur dari gelar di depan nama, melainkan dari seberapa siap manusia mengemas bekal sebelum perjalanan panjang dimulai.
Ketika mentari mulai menyembul di ufuk timur Limo Kaum, jamaah membubarkan diri dengan sebuah renungan besar. Bahwa mengingat mati, justru adalah cara paling cerdas untuk benar-benar menghargai hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....