Wakapolres Pessel Gegerkan Mimbar Sholat Jumat Seruan Kamtibmas Cegah Pekat
- 27 Mar 2026 12:47 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Pessel - Wakapolres Pessel, KOMPOL Syafrizen, SH, Datuak Rang Batuah, tampil dengan kharisma yang kuat dan penuh ketegasan saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Hidayatullah Kampung Jinang, menghadirkan suasana yang tidak hanya khidmat dan religius, tetapi juga mengguncang kesadaran batin para jamaah akan urgensi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat sebagai sebuah tanggung jawab bersama yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Dalam setiap untaian kalimat yang disampaikannya, terselip pesan moral yang dalam, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak lagi bersikap pasif atau menyerahkan sepenuhnya urusan kamtibmas kepada aparat, melainkan bangkit sebagai bagian dari solusi demi menyelamatkan kehidupan sosial nagari dari berbagai ancaman yang kian nyata.

Dengan mengangkat tema “Kamtibmas Nagari Tanggung Jawab Bersama,” beliau menegaskan bahwa keamanan sejati tidak hanya dibangun dengan kekuatan hukum, tetapi berakar dari keimanan, ketakwaan, serta kepedulian sosial yang tumbuh dalam setiap individu masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an telah memberikan peringatan sekaligus janji yang jelas: keberkahan akan turun kepada suatu negeri apabila masyarakatnya beriman dan bertakwa, serta aktif dalam menegakkan amar makruf nahi mungkar, namun sebaliknya, kehancuran akan datang ketika masyarakat membiarkan kemungkaran tumbuh tanpa kendali dan kehilangan keberanian untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.
Dalam khutbah yang sarat dengan nuansa spiritual dan kepedulian sosial tersebut, Wakapolres secara lugas menyoroti berbagai persoalan yang tengah menggerogoti kehidupan masyarakat, mulai dari maraknya balap liar yang tidak hanya membahayakan pelakunya tetapi juga mengancam keselamatan orang lain, penyalahgunaan narkoba yang perlahan merusak masa depan generasi muda, praktik perjudian yang menghancurkan perekonomian keluarga, hingga pergaulan bebas dan perilaku menyimpang yang bertentangan dengan nilai agama dan adat.
Semua fenomena ini, menurutnya, bukan sekadar masalah individu, melainkan ancaman kolektif yang harus dihadapi secara bersama dengan langkah nyata dan kesadaran yang tinggi.
Lebih dalam lagi, beliau mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan peran strategis “Tungku Tigo Sajarangan” sebagai fondasi utama dalam menjaga keseimbangan kehidupan nagari. Sinergi antara Ninik Mamak sebagai penjaga adat, Alim Ulama sebagai penuntun spiritual, dan Cadiak Pandai sebagai penggerak intelektual dinilai sebagai kekuatan besar yang mampu menjadi benteng kokoh dalam menghadapi derasnya arus perubahan zaman. Ketika ketiga unsur ini bersatu dalam visi yang sama, maka nagari tidak hanya akan kuat secara sosial, tetapi juga kokoh dalam nilai dan prinsip kehidupan.
Dengan gaya penyampaian yang tegas, lugas, namun tetap menyentuh relung hati, Wakapolres mengajak seluruh jamaah untuk tidak berhenti pada tataran mendengar, tetapi berani melangkah menjadi pelaku perubahan yang nyata di lingkungan masing-masing.
Ia menekankan pentingnya membangun keberanian moral untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dengan cara yang bijaksana, memperkuat kepedulian sosial, serta menanamkan nilai-nilai agama dan adat sejak dari lingkungan keluarga sebagai benteng pertama dalam menjaga generasi.
Khutbah tersebut seolah menjadi momentum refleksi bersama, di mana para jamaah tidak hanya merasakan kesejukan spiritual, tetapi juga dorongan kuat untuk berbenah dan berkontribusi nyata dalam menjaga nagari.
Suasana haru dan kesadaran kolektif pun terasa begitu kental, mencerminkan bahwa pesan yang disampaikan benar-benar menyentuh hati dan menggugah pikiran.
Pada akhirnya, semangat yang digaungkan dalam khutbah ini diharapkan tidak berhenti sebagai seruan sesaat, melainkan menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan, di mana seluruh lapisan masyarakat bersatu padu menjaga keamanan, memperkuat nilai moral, dan membangun kehidupan sosial yang harmonis.
Dengan demikian, harapan untuk mewujudkan nagari yang aman, damai, dan penuh keberkahan—sebuah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—tidak lagi sekadar impian, tetapi menjadi kenyataan yang dapat dirasakan oleh generasi hari ini dan yang akan datang. (JM/RRi BKT)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....