KHGT: Sebuah Keniscayaan Persatuan Umat di Masa Depan
- 21 Mar 2026 06:55 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Payakumbuh - Gagasan mengenai Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) kini tengah menjadi perbincangan hangat di tengah diskursus keumatan. Meski masih menuai beragam respons, KHGT dipandang sebagai solusi fundamental bagi tantangan persatuan umat Islam di era modern yang serba terhubung.
Hal itu ditegaskan oleh akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Bukittinggi, Dr. Irwandi Nashir yang juga Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah kota Payakumbuh saat menyampaikan Khutbah Idul Fithri 1447 H di Masjid Raya Bukittinggi, Jumat (20/3/2026).
Untuk lebih mendalam secara khusus Dr.Irwandi menyampaikan bahwa kehadiran kalender tunggal bukan sekadar kebutuhan administratif, melainkan sebuah keniscayaan syar’i dan sains.
“Jika kita melihat dalil, logika syariat, serta akselerasi ilmu pengetahuan hari ini, In Shaa Allah suatu saat KHGT akan diterima sebagai sebuah keniscayaan. Ini adalah jalan menuju persatuan umat yang lebih kokoh,” ujar Dr. Irwandi kepada RRI.
Ia menjelaskan bahwa Islam pada hakikatnya menghendaki persatuan, sebagaimana pesan eksplisit dalam Al-Qur'an Surah Ali ‘Imran ayat 103. Namun, realitas saat ini menunjukkan umat sering kali berbeda dalam menentukan awal Ramadhan maupun hari raya.
“Padahal kita hidup dalam satu dunia yang saling terhubung. Informasi sampai dalam hitungan detik. Secara rasional dan syar’i, sangat wajar jika umat memiliki satu kalender global yang sama,” tambahnya.
Evolusi Metodologi
Menanggapi perbedaan metode antara rukyah dan hisab, Dr. Irwandi memberikan perspektif sejarah yang menarik. Ia menganalogikan penolakan KHGT dengan resistensi awal terhadap inovasi di masa lalu, seperti pelurusan arah kiblat oleh KH Ahmad Dahlan, penggunaan pengeras suara, hingga kran air untuk wudhu.
“Dulu banyak hal ditolak karena belum dipahami manfaatnya. Kini, semua itu menjadi standar di masjid-masjid kita. Begitu juga dengan KHGT. Hisab astronomi modern saat ini sangat presisi, mampu menghitung posisi bulan hingga puluhan tahun ke depan,” jelasnya.
| Baca juga: Rajut Silaturahmi: Pengabdian Tiada Henti |
Menurutnya, rukyah pada zaman Nabi SAW adalah cara (washilah) yang paling memungkinkan saat itu karena umat belum menguasai astronomi secara luas. Namun, ketika ilmu pengetahuan berkembang, penggunaan hisab tidaklah bertentangan dengan syariat, melainkan menjadi alat yang lebih akurat untuk mencapai tujuan ibadah.
Menata Peradaban
Lebih jauh, Dr. Irwandi menekankan bahwa KHGT juga berfungsi untuk menata aktivitas kehidupan secara umum, tidak hanya terbatas pada ritual ibadah. Dengan sistem penanggalan yang terukur, perencanaan sosial dan ekonomi umat Islam di seluruh dunia dapat berjalan lebih sinkron.
Ia pun mengajak umat untuk terus membuka ruang dialog dan literasi agar tidak terjadi fenomena "lambat faham" yang dapat menghambat kemajuan peradaban.
“Tugas kita adalah terus belajar dan menjelaskan dengan hikmah. Semoga Allah membimbing umat ini menuju ilmu dan kemaslahatan bersama, sehingga Islam kembali memberikan rahmat bagi semesta alam,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....