Menjaga Martabat Diri ditengah Jalan Berduri

  • 20 Mar 2026 07:15 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Bukittinggi —Mentari pagi menyapa Masjid Raya Bukittinggi dengan kehangatan yang tak biasa pada 1 Syawal 1447 Hijriah. Di tengah jemaah yang bersimpuh khusyuk, sebuah pesan mendalam bergema, membedah hakikat kemanusiaan yang kerap tergerus oleh derasnya arus zaman.

Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Dr. H. Irwandi Nashir, dalam khutbah Idul Fitri bertajuk "Menjaga Martabat Diri di Tengah Jalan Berduri", mengajak umat untuk merenungkan kembali posisi mereka sebagai mahluk mulia.

Dengan pendekatan sufistik-sosiologis, Irwandi menekankan bahwa martabat manusia bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sebuah perjuangan yang ia sebut sebagai kemuliaan iktisabi.

"Kemuliaan ini tidak datang cuma-cuma. Ia adalah derajat yang ditentukan oleh perangai dan usaha manusia itu sendiri dalam menjaga kesucian ruhaninya," ujar Irwandi di hadapan jemaah yang memadati masjid ikonik di jantung Kota Jam Gadang tersebut, Jumat (20/3/2026).

Akar Tauhid yang Menghujam

Merujuk pada tamsil indah dalam Al Quran Surah Ibrahim ayat 24-25, Irwandi mengibaratkan sosok manusia bermartabat laksana sebuah pohon yang baik (syajaratan thayyibah). Unsur pertama dari martabat ini adalah akar yang menghujam kuat.

Ia menjelaskan bahwa penanaman tauhid sejatinya telah dimulai jauh sebelum manusia menghirup udara dunia. Saat ruh hendak ditiupkan ke dalam jasad, terjadi kesaksian primordial antara Sang Pencipta dan hamba-Nya.

"Tauhid bukan sekadar konsep di atas kertas, melainkan komitmen azali. Iman yang menghujam kuat dalam dada adalah fondasi agar manusia tidak mudah tumbang saat badai kehidupan dan godaan duniawi menerpa," tegas Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah kota Payakumbuh ini.

Cabang yang Menjulang: Kemenangan atas Nafsu

Dimensi kedua dari kemuliaan manusia tampak pada dahan-dahan yang menjulang ke langit. Dalam perspektif sufistik yang dipaparkannya, ini adalah simbol dari kesucian jiwa. Manusia bermartabat adalah mereka yang ruhnya mampu "terbang" meninggalkan tarikan gravitasi hawa nafsu yang rendah.

Irwandi memotret fenomena sosial di mana banyak manusia terjebak dalam "jalan berduri" berupa materialisme dan syahwat kekuasaan. "Manusia yang mulia adalah mereka yang terus berjihad. Bukan melawan orang lain, melainkan melawan kecenderungan dirinya sendiri untuk tunduk pada ego. Cabang yang menjulang itu adalah simbol harga diri yang tidak bisa dibeli oleh kepentingan sesaat," tuturnya.

Buah Sabar di Setiap Musim

Sebagai puncaknya, pohon yang akar dan dahannya kuat itu akan menghasilkan buah yang manis di setiap musim. Bagi insan bertauhid, buah tersebut adalah kesabaran.

Menurut Irwandi, sabar bukanlah sikap pasif, melainkan daya tahan aktif dalam menghadapi berbagai dinamika:

  • Musim Godaan: Sabar untuk tetap istiqomah di jalan kebenaran meski sepi pengikut.
  • Musim Kebahagiaan: Sabar untuk tidak melampaui batas dan tetap rendah hati.
  • Musim Cobaan: Sabar untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

Ia menutup khutbahnya dengan mengutip Surah Al-Furqon ayat 75, yang menjanjikan martabat tertinggi di akhirat bagi mereka yang sabar. Di surga kelak, para pejuang martabat ini akan disambut dengan penghormatan dan salam damai justru karena keteguhan mereka melewati "jalan berduri" di dunia.

"Jadikanlah Idul Fitri kali ini bukan sekadar perayaan kemenangan fisik, melainkan momentum untuk menanam kembali akar tauhid agar martabat diri tetap tegak, seteguh pohon yang akarnya menghujam bumi dan pucuknya menyentuh langit, " ajaknya. ()

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....