Menakar Relevansi Hisab dan Rukyat dalam Sains Modern
- 20 Mar 2026 04:58 WIB
- Bukittinggi
RRI..CO.ID,Bukittinggi– Persoalan penentuan awal bulan Kamariah, khususnya Ramadan dan Syawal, sering kali menjadi topik hangat di tengah umat Islam. Menanggapi dinamika antara metode rukyatul hilal (observasi visual) dan hisab (perhitungan astronomis),
Dekan Fakultas Syariah UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Prof. Dr. Ismail Novel, M.Ag., memberikan pandangan mendalam yang menyandarkan aspek syariat pada konteks perkembangan ilmu pengetahuan.
Dalam wawancara bersama RRI pada Kamis (19/3/2026), Prof. Ismail yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Barat ini menegaskan bahwa perintah puasa dalam surah al-Baqarah ayat 183-185 tidak berdiri sendiri.
Ayat tersebut berkelindan erat dengan ayat-ayat kauniyah yang menjelaskan keteraturan alam semesta."Bilangan bulan di sisi Allah itu dua belas seperti yang kita baca dalam surah at-Taubah: 36, dan matahari serta bulan beredar menurut perhitungan yang pasti (QS. ar-Rahman: 5).
Allah menetapkan manzilah-manzilah agar manusia mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu (QS. Yunus: 5)," urai Prof. Ismail.
Menurutnya, ketika Nabi Muhammad SAW memerintahkan umat untuk berpuasa dan beridulfitri berdasarkan penglihatan hilal (rukyatul hilal),
Hal itu merupakan solusi paling praktis dan mudah pada zaman tersebut. Rasulullah SAW sendiri mengakui keterbatasan umat pada masa itu melalui hadis yang menyebutkan, "Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab.
"Pernyataan Nabi tentang 'umat yang ummi' adalah pengakuan atas realitas sosiologis dan tingkat ilmu pengetahuan saat itu. Namun, hadis tersebut justru mengisyaratkan bahwa jika kemampuan menulis dan berhitung (hisab) sudah dikuasai, maka metode tersebut menjadi relevan," jelas Prof. Ismail.
Beliau memaparkan bahwa pada masa awal Islam, populasi Muslim masih sedikit dan mendiami kawasan yang terbatas secara geografis.
Dalam kondisi demikian, rukyat sangat efektif. Namun, di era modern di mana umat Islam tersebar di seluruh penjuru dunia dengan wilayah yang sangat luas, serta didukung teknologi astronomi yang presisi, metode hisab menawarkan kemudahan dan efektivitas yang lebih tinggi.
"Rukyatul hilal sejatinya hanyalah salah satu cara untuk mengetahui awal bulan. Di atasnya, terdapat prinsip hisab atau perhitungan yang telah ditegaskan dalam Alquran. Ketika ilmu pengetahuan telah canggih, metode hisab justru menjadi jalan yang lebih akurat dalam memberikan kepastian waktu ibadah bagi jutaan umat," tambahnya.
Mengakhiri narasinya, Prof. Ismail mengajak umat untuk melihat perbedaan metode ini sebagai khazanah pemikiran yang bermuara pada satu tujuan: ketaatan kepada Allah Ta'ala. "Wallahu a’lam," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....