Perpaduan Burhan dan Otak dalam Menempa Kejujuran Batin
- 09 Mar 2026 05:19 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Payakumbuh — Ibadah shiyam Ramadhan sejatinya bukanlah sekadar ritual menahan lapar dan dahaga yang bersifat lahiriah. Lebih dalam dari itu, ia adalah sebuah "madrasah" agung bagi manusia untuk menempa diri menjadi sosok yang utuh atau insan kamil. Melalui shaum, seorang Mukmin diajak melampaui sekat-sekat fisik menuju kematangan spiritual yang sarat kualitas.
Semangat inilah yang menjadi ruh dalam Diskusi Ramadhan 1447 H di Training College (TC) kota Payakumbuh, Ahad (8/3/2026). Memasuki sesi ketiga, akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Dr. Irwandi Nashir, membedah bagaimana integritas seorang hamba diuji di tengah himpitan insting dasarnya sendiri.
Merujuk pada fragmen kisah Nabi Yusuf 'alaihissalam dalam Al-Quran, Irwandi Nashir menjelaskan bahwa sang Nabi adalah prototipe manusia unggul. Nabi Yusuf berhasil melewati ujian syahwat yang maha berat bukan hanya karena kekuatan kehendak manusiawi, melainkan karena hadirnya Burhan, yaitu petunjuk nyata dan intervensi Ilahiah yang merasuk ke dalam relung kesadaran terdalam.
Dalam kacamata pengembangan sumber daya manusia, jelas Irwandi Nashir, Burhan ini bekerja secara sistematis. Ia berkelindan dengan sinergi kerja otak pada dimensi kognitif sebagai kendali atas desakan emosi.
"Di sinilah kecerdasan intelektual berperan penting untuk membedakan mana fana-nya kenikmatan sesaat dan mana nilai abadi yang harus dijaga demi ridha-Nya, " jelas Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah kota Payakumbuh itu.
Secara emosional, terang Irwandi Nashir, pancaran petunjuk ini melahirkan rasa malu (haya’) dan cinta yang mendalam kepada Sang Khaliq. "Hal tersebut mengubah orientasi batin seseorang; dari keinginan untuk memiliki secara liar, menjadi keinginan untuk menjaga kesucian diri dan kehormatan ('iffah), " paparnya.
Dijelaskannya, integritas nabi Yusuf pun tidak berhenti di tatanan niat, namun mengejawantah dalam aksi nyata. Langkah preventif untuk menjauh dari sumber fitnah adalah bentuk kendali diri yang nyata. "Di titik ini, perilaku hamba sinkron dengan tauhid yang bersemayam di dalam hatinya," ungkapnya.
Pada level spiritual, jelas Irwandi Nashir, keyakinan yang kokoh membuat godaan tak lagi dirasakan sebagai beban yang menyesakkan. Bagi seorang insan kamil, ujian adalah ruang yang jawabannya sudah ditemukan melalui ketulusan. "Di tengah kebisingan nafsu duniawi, telinga batinnya tetap tajam mendengar suara kebenaran yang memanggilnya pulang, " jelasnya.
Menutup diskusi yang dipandu Ketua Korps Muballigh Muhammadiyah (KMM) kota Payakumbuh, Ustadz Erianto tersebut, Irwandi Nashir menekankan bahwa kualitas manusia unggul adalah perpaduan antara mujahadah (usaha keras) dan inayah (pertolongan Allah).
"Madrasah shaum, pada akhirnya, adalah jalan pulang untuk menjadi hamba yang disucikan, yang tetap teguh melangkah meski pintu-pintu dunia tampak tertutup rapat, " ungkapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....