Maantaan Pabukoan, Kelaziman Adat Kurai yang Mulai Dilupakan
- 09 Feb 2026 13:46 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Tradisi Maantaan Pabukoan merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Kurai yang sarat dengan nilai kebersamaan, gotong royong, serta kepedulian sosial. Tradisi ini dahulu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya dalam mempererat hubungan kekeluargaan dan menjaga adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun.
Maantaan Pabukoan adalah tradisi yang wajib dilakukan oleh menantu perempuan selama bulan Ramadan. Tidak sekadar mengantarkan makanan ke rumah mertua, tradisi ini mengandung makna mendalam yang sejalan dengan nilai-nilai Islam, seperti berbagi rezeki, ketaatan, rasa hormat, serta kecintaan kepada orang tua dan orang yang lebih tua. Tradisi ini juga menjadi cerminan ketaatan seorang istri kepada suaminya dalam bingkai adat dan agama.
Namun, seiring perkembangan zaman, pelaksanaan Maantaan Pabukoan kini mulai jarang ditemui. Modernisasi, meningkatnya kesibukan masyarakat, serta berkurangnya minat generasi muda terhadap adat istiadat menjadi beberapa faktor yang menyebabkan tradisi ini perlahan ditinggalkan. Padahal, Maantaan Pabukoan memiliki nilai luhur yang penting untuk terus dilestarikan.
Tujuan utama dari tradisi Maantaan Pabukoan adalah sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan. Selain itu, tradisi ini juga bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antara menantu perempuan dengan keluarga mertua, termasuk bako (mertua), mamak (nenek), dan dunsanak kanduang (kerabat). Hal ini sejalan dengan sistem perkawinan adat Minangkabau, di mana seorang suami tinggal di lingkungan keluarga istri setelah menikah.
Dalam pelaksanaannya, sang menantu perempuan secara adat wajib mendatangi rumah mertua pada bulan Ramadan dengan membawa makanan sebagai bentuk penghormatan dan bakti. Tradisi ini sangat menjunjung tinggi falsafah “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, yang menegaskan bahwa adat dan agama berjalan seiring.
Makanan yang dibawa dalam Maantaan Pabukoan biasanya terdiri dari empat jenis yang mewakili empat kategori makanan, yakni makanan pokok (nasi), lauk-pauk (samba), hidangan berbuka (pabukoan), dan pencuci mulut (parabuang). Keempat jenis makanan tersebut ditempatkan dalam rantang bertingkat yang terdiri dari empat wadah.
Menu yang dibawa beragam, seperti nasi, gulai ayam, kolak, sarabi atau apem, raga-raga (agar-agar), lapek bugih, onde-onde, pangek, dan berbagai makanan khas Minangkabau lainnya. Rantang berisi pabukoan tersebut biasanya diantarkan setelah salat Asar menjelang waktu berbuka puasa, dengan cara dijinjing atau dijunjung di atas kepala.
Masyarakat berharap tradisi Maantaan Pabukoan tidak hanya dikenang sebagai cerita masa lalu, tetapi dapat terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi muda. Dengan demikian, nilai-nilai kebersamaan, penghormatan kepada orang tua, serta ajaran agama yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan tidak hilang ditelan zaman. (ER)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....