Sejarah Masuknya Islam di Minangkabau

  • 07 Feb 2026 18:21 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Perjalanan Islam di Minangkabau berlangsung panjang dan berlapis, melibatkan pedagang, ulama, dan akulturasi budaya. Ada beragam pendapat tentang awal mula ajaran Islam menyebar di ranah Minang. Dalam bukunya Sejarah Umat Islam, Buya Hamka menyebutkan, pada 684 M, koloni Arab sudah terbentuk di pesisir barat Sumatra. Sementara PM Holt berpendapat, perkembangan Islam di Minangkabau bermula dari pesisir Pariaman setelah ajaran ini masuk ke Aceh pada abad ke-14.

Sejarawan lain menekankan peran pedagang Arab, Persia, dan Gujarat yang singgah di pesisir Sumatra, kemudian menyebarkan Islam ke pedalaman melalui sungai-sungai seperti Batang Hari. Namun, saat itu ajaran Islam belum begitu mengakar kuat. Selain perdagangan, dakwah Sufi juga memainkan peran penting. Ulama dari Aceh dan daerah lain berdakwah di pesisir Barat Sumatra, sebelum ajaran Islam menyebar ke pedalaman Minangkabau.

Menurut catatan sejarah, sejak abad ke-7 M, dakwah ulama sufi melalui jalur perdagangan mulai dikenal di pesisir, terutama di Pariaman dan Ulakan. Penyebaran semakin mengakar ketika Raja Pagaruyung memeluk Islam pada abad ke-16, menghasilkan sintesis budaya yang terkenal hingga kini: “Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”.

Disertasi Amir Syarifuddin (IAIN Syarif Hidayatullah, 1982) membagi proses Islamisasi Minangkabau menjadi tiga tahap.

Tahap pertama berlangsung melalui jalur perdagangan. Pedagang Muslim dari Arab, Persia, dan Gujarat tidak hanya berniaga tetapi juga menyebarkan ajaran Islam dan menikah dengan penduduk setempat. Islam dinilai sesuai dengan falsafah adat Minangkabau yang telah mengakar lama.

Tahap kedua terjadi sekitar abad ke-15 di pesisir barat. Dakwah Islam berkembang lebih sistematis melalui para saudagar Aceh, menjangkau seluruh masyarakat Minangkabau secara lebih luas.

Tahap ketiga ditandai dengan penyebaran Islam dari pesisir (rantau) ke dataran tinggi (darek). Kaum darek lebih lambat menerima Islam karena pengaruh budaya Hindu-Buddha dari Kerajaan Pagaruyung masih kuat. Penyebaran ini dikenal dengan ungkapan: “Syara’ mandaki, adat manurun”, artinya syariat Islam naik ke dataran tinggi seiring adat yang turun dari generasi ke generasi.

Buku Pertautan Budaya Sejarah Minangkabau dan Negeri Sembilan (2017) menambahkan, Islam datang dari dua pesisir: barat melalui Pariaman oleh murid Syekh Burhanuddin Ulakan, dan timur melalui Kerajaan Kuntu. Pada masa pemerintahan Ananggawarman, pengaruh Hindu-Buddha mulai pudar seiring melemahnya Majapahit dan dominasi Kesultanan Demak. Salah satu pertempuran penting terjadi di Padang Sibusuk (sekarang Kabupaten Sijunjung) saat Majapahit menyerang Pagaruyung.

Begitu panjang perjalanan Islam masuk ke Ranah Minang, akhirnya mayoritas masyarakat Minangkabau menjadi Muslim. Islam mulai dikenal di kalangan istana Pagaruyung sejak abad ke-17. Dalam Tambo, raja pertama yang memeluk Islam bergelar Sultan Alif. Muncul lembaga baru, Raja Ibadat, sebagai penyeimbang Raja Adat dan Raja Alam, yang bersama-sama membentuk sistem pemerintahan Rajo Nan Tigo Selo. Di bawahnya terdapat Tuan Kadi dan Malin, yang memastikan hukum Islam berjalan beriringan dengan adat.

Sebelum Islam, falsafah adat Minangkabau banyak mengacu pada pengamatan alam. Setelah Islam diterima, adat disempurnakan dengan ketentuan agama berdasarkan Alquran dan Sunah. Dua kutub ini saling berdampingan, sehingga pepatah “Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah” menjadi pedoman utama. Pemuka adat diwajibkan taat syariat, dan ulama pun harus memahami adat Minangkabau.

Pemaknaan pepatah ini lahir dari perjalanan panjang akulturasi budaya dan agama. Hingga kini, adat dan agama tidak dapat dipisahkan dalam kultur masyarakat Minangkabau, menjadikan Ranah Minang unik dalam memadukan tradisi lokal dengan Islam.(ER)

 

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Tabel Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Calibri",sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-font-kerning:1.0pt; mso-ligatures:standardcontextual;}

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....