Bung Hatta, dari Bukittinggi Memerdekakan Bangsa dengan Pikiran
- 07 Feb 2026 17:59 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Dari sebuah kota sejuk di Sumatera Barat bernama Bukittinggi, lahirlah salah satu tokoh terbesar dalam sejarah Indonesia, Dr. (H.C) Drs. H. Mohammad Hatta. Ia lahir pada 12 Agustus 1902, di masa ketika Indonesia masih berada di bawah bayang-bayang penjajahan kolonial Belanda. Sejak kecil, Hatta tumbuh sebagai anak yang tekun, cerdas, disiplin, dan religius.
Bung Hatta dikenal sebagai pribadi yang sederhana, rendah hati, dan memiliki kedalaman pemikiran yang luar biasa. Budayawan Indonesia , Nurcholish Madjid, pernah menyebut Hatta sebagai sosok religius yang mampu berpikir modern. Perpaduan nilai keagamaan, kecerdasan intelektual, dan sikap hidup sederhana inilah yang membentuk karakter Bung Hatta sebagai negarawan besar.
Tak banyak yang tahu, di balik ketegasan pemikirannya, Bung Hatta muda ternyata gemar bermain sepak bola. Saat remaja, ia pernah bergabung dengan klub sepak bola Padang bernama Young Fellow. Menurut kisah yang dituturkan wartawan senior asal Padang, Marthias Doesky Pandoe, Bung Hatta dikenal sebagai gelandang tengah yang tangguh. Bahkan, pemain-pemain Belanda yang sering bertanding dengannya mengakui bahwa ia sangat sulit dilewati di lapangan.
Kesadaran politik Bung Hatta tumbuh sejak ia masih berstatus pelajar. Selain menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS), ia juga memperdalam ilmu agama di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di bawah bimbingan Haji Abdullah Ahmad. Pada masa itu, Bung Hatta kerap mengikuti ceramah dan diskusi politik yang digelar tokoh-tokoh pergerakan di Padang.
Sejak usia muda, Bung Hatta sudah bersentuhan langsung dengan berbagai bentuk ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Pengalaman tersebut mempertajam kepekaan dan kesadaran politiknya sebagai anak bangsa. Kecintaannya pada membaca juga berperan besar dalam membentuk kedalaman pemikirannya. Sejak remaja, Hatta dikenal sebagai pembaca rakus buku-buku pemikiran dunia, demi mencari format terbaik bagi masa depan bangsanya: negara yang adil, sejahtera, dan berdaulat.
Tak hanya membaca, Bung Hatta juga menuliskan gagasan-gagasannya. Pada usia 18 tahun, ia menulis cerpen berjudul “Namaku Hindania!” yang dimuat dalam majalah Jong Sumatra. Cerpen bernuansa cinta itu merupakan personifikasi bangsa Indonesia, ditulis sebelum keberangkatannya ke Belanda untuk melanjutkan studi.
Berkat ketekunan dan kecerdasannya, Bung Hatta memperoleh beasiswa dari Yayasan Van Deventer dan resmi menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Bisnis Rotterdam pada tahun 1921, saat usianya 19 tahun. Selain menguasai bahasa Belanda, Bung Hatta juga fasih berbahasa Inggris, Perancis, dan Jerman. Kemampuan ini membuat gagasan-gagasannya tentang kemerdekaan Indonesia bergema luas hingga ke berbagai negara.
Di Belanda, Bung Hatta tidak menjelma menjadi cendekiawan menara gading. Ia justru aktif menggerakkan organisasi mahasiswa Indische Vereeniging, yang semula bersifat sosial, menjadi organisasi politik perlawanan. Bersama rekan-rekannya, ia menerbitkan majalah Indonesia Merdeka, yang sebelumnya bernama Hindia Poetra. Tulisan-tulisannya yang tajam membuat pemerintah kolonial gerah.
Pada tahun 1927, Bung Hatta ditangkap dan diadili oleh pemerintah Belanda. Di ruang pengadilan, ia membacakan pidato legendaris berjudul “Indonesia Merdeka” selama kurang lebih tiga setengah jam. Melalui kata-kata, Bung Hatta menggugat penjajahan dan menegaskan hak bangsa Indonesia untuk merdeka. Ia membuktikan bahwa pena dan pikiran bisa lebih tajam dari senjata.
Setelah kembali ke tanah air, Bung Hatta bersama Sutan Sjahrir mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia, partai yang menekankan pendidikan politik rakyat. Akibat aktivitasnya, Bung Hatta kembali ditangkap dan diasingkan ke Boven Digul, Irian. Ke tempat pengasingan itu, ia membawa 16 peti—bukan berisi pakaian, melainkan buku-buku. Di pengasingan, ia terus membaca dan menulis, mengirimkan gagasannya ke surat kabar di Batavia dan Belanda.
Peran Bung Hatta dalam kemerdekaan Indonesia sangatlah besar. Ia terlibat langsung dalam perumusan Proklamasi dan konstitusi negara. Gagasannya tentang kedaulatan rakyat, penguasaan negara atas sumber daya alam, serta hak berkumpul dan berserikat, tertuang dalam pasal-pasal penting UUD 1945. Namun dalam perjalanan sejarah, pemikiran luas Bung Hatta kerap dipersempit, hingga ia lebih dikenal sebatas Bapak Koperasi Indonesia.
Bung Hatta juga dikenal sebagai sosok yang teguh memegang prinsip hidup. Ia pernah berjanji tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka, dan janji itu ditepatinya. Tiga bulan setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, ia melamar Rahmi Rahim, dengan mahar yang unik: sebuah buku karyanya sendiri berjudul Alam Pikiran Yunani.
Saat wafat pada tahun 1980, Bung Hatta meninggalkan warisan intelektual luar biasa berupa perpustakaan pribadi berisi sekitar 30 ribu judul buku. Warisan ini menjadi simbol bahwa hidup Bung Hatta sepenuhnya diabdikan untuk ilmu, pemikiran, dan bangsa.
Kini, kisah hidup Bung Hatta tersimpan rapi di Rumah Kelahiran Bung Hatta di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 37, Bukittinggi. Rumah bersejarah yang dibangun kembali pada 1995 ini menjadi cagar budaya dan destinasi wisata edukasi. Di sanalah jejak kecil seorang Proklamator dapat dirasakan, mengingatkan generasi hari ini bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari keteguhan prinsip, kecerdasan pikiran, dan kesederhanaan hidup seorang Bung Hatta. (ER)
/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Tabel Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Calibri",sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-font-kerning:1.0pt; mso-ligatures:standardcontextual;}
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....