Musisi Daerah Mendunia, Tiar Ramon Legenda Musik Minangkabau

  • 07 Feb 2026 17:47 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Indonesia patut berbangga karena memiliki banyak musisi daerah berbakat yang diakui tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional. Dari Ranah Minangkabau, salah satu nama besar yang menempati posisi istimewa dalam sejarah musik daerah adalah Tiar Ramon, sosok legendaris yang karyanya tetap hidup lintas generasi.

Tiar Ramon lahir dengan nama Bachtiar Rachman pada 12 Januari 1941. Ia berasal dari Kabupaten Padang Pariaman dan wafat pada 21 Oktober 2000. Sepanjang hidupnya, Tiar Ramon dikenal luas sebagai penyanyi dan pencipta lagu Minang dan Melayu yang berhasil membawa warna musik tradisi ke panggung nasional hingga internasional.

Bakat seni Tiar Ramon tumbuh dari keluarga yang memiliki akar budaya kuat. Ayahnya, Abdurrahman (Tirahman) dari suku Koto, dikenal sebagai tukang dikia, yakni seniman pelantun zikir dalam tradisi Arab–Minang. Ibunya, Tiraya, berasal dari suku Piliang. Ia merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara, dan darah seni itu terus mengalir dalam keluarganya, salah satunya melalui keponakannya, Ganti Ramon, yang juga berkiprah sebagai penyanyi.

Pada awal 1960-an, Tiar Ramon tinggal bersama musisi Yusaf Rahman di rumah Pak Hamier, Kepala Jawatan Kebudayaan Sumatera Barat. Saat itu, ia masih menempuh pendidikan di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Rimbo Kaluang, Padang. Tahun 1961 menjadi tonggak penting dalam perjalanan kariernya, ketika ia meraih juara Festival Lagu RRI Padang. Prestasi tersebut menandai awal kiprahnya sebagai penyanyi profesional.

Dalam dunia musik Minangkabau, nama Tiar Ramon dikenang luas sebagai pencipta dan pemopuler lagu “Badindin”, atau dikenal juga sebagai Dindin Badindin. Lagu ini telah menjadi karya klasik dan wajib dalam setiap pertunjukan musik Minang. Popularitasnya tidak hanya di Ranah Minang, tetapi juga di berbagai daerah Indonesia, bahkan kerap menjadi pengantar budaya Minangkabau di forum internasional.

Selain “Badindin”, Tiar Ramon melahirkan banyak karya yang mengukuhkan posisinya sebagai ikon musik Minang, di antaranya Risaulai, Usah Diratoki, Dendang Rabab, Mbok Siamang, Cinta Yang Layu, Hidup Seorang, dan Sayang Tak Sudah. Salah satu lagu duet legendarisnya bersama Elly Kasim, “Bapisah Bukannyo Bacarai”, menjadi simbol kuat tentang cinta dan perpisahan dalam balutan lirik Minang yang mendalam.

Duet Tiar Ramon dan Elly Kasim dikenang sebagai salah satu kolaborasi paling berpengaruh dalam sejarah Pop Minang. Beberapa lagu duet ikonik yang mereka bawakan antara lain Bapisah Bukannyo Bacarai, Dindin Badindin, Roda Padati, Buruang Jo Pikek, dan Takuik. Perpaduan suara Tiar Ramon yang tenang dan dalam dengan cengkok khas Elly Kasim menciptakan karakter musikal yang kuat dan mudah dikenali.

Tak hanya dalam format duet, Tiar Ramon juga aktif dalam berbagai album kolaborasi, seperti Bia Tuo Djo Mudo bersama grup Zaenal Combo, Basuo Kembali (1975) dengan grup Kumbang Tjari, serta Sate Piaman (1975) bersama Nuskan Sjarif. Karya-karyanya juga banyak dihimpun kembali dalam album kompilasi seperti Emas Nostalgia Asli Pop Minang.

Selain dikenal sebagai seniman, Tiar Ramon juga berperan aktif dalam organisasi seni. Pada tahun 1997, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia) Wilayah Sumatera Barat, menunjukkan dedikasinya terhadap kemajuan musik daerah.

Kepergian Tiar Ramon meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Minang dan para pecinta musik tradisional. Wafatnya menandai berakhirnya satu era penting dalam perkembangan lagu Minang modern. Namun demikian, warisan seni yang ia tinggalkan terus hidup dan dikenang.

Tiar Ramon bukan sekadar penyanyi. Ia adalah simbol perasaan dan kebanggaan orang Minangkabau. Melalui syair dan suara, ia menyuarakan cinta, perpisahan, dan harapan. Hingga kini, denting lagu “Badindin” masih menggema, menjadi bukti bahwa budaya Minangkabau terus menyapa dunia melalui karya-karya abadi seorang legenda.(ER)

 

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Tabel Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Calibri",sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-font-kerning:1.0pt; mso-ligatures:standardcontextual;}

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....