Jejak Sejarah Masjid Jamik Surau Gadang Bukittinggi

  • 05 Feb 2026 08:01 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Bukittinggi – Masjid Jamik Surau Gadang, yang juga dikenal sebagai Masjid Jami’ Mandiangin, merupakan salah satu masjid tertua dan paling bersejarah di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Berlokasi strategis di persimpangan jalan utama Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, masjid ini telah menjadi saksi perjalanan spiritual, adat, dan sosial masyarakat sejak abad ke-19.

Masjid ini berdiri pada tahun 1830, awalnya berupa surau tradisional dengan denah bujur sangkar, ditopang tiang kayu dan beratapkan ijuk. Seiring perkembangan masyarakat, surau tersebut kemudian berkembang menjadi masjid jami pada periode 1855 hingga 1865, berfungsi sebagai pusat ibadah bersama dan kegiatan keagamaan nagari.

Selama hampir dua abad, Masjid Jamik Surau Gadang telah mengalami sejumlah renovasi. Meski demikian, ciri khas arsitektur Minangkabau tetap dipertahankan, terutama bentuk atap tumpang tiga yang menjadi identitas bangunan religius tradisional di Ranah Minang.

Renovasi besar masjid dimulai dengan peletakan batu pertama pada 3 Desember 2021 oleh Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah. Pembangunan kembali ini dirancang dengan estimasi anggaran antara Rp23 hingga Rp30 miliar, bertujuan memperluas kapasitas dan memperkuat fungsi sosial masjid tanpa menghilangkan nilai historisnya.

Denah masjid diperluas dari ukuran awal 18×9 meter menjadi 28×28 meter, dilengkapi dua lantai dan satu basement. Lantai dasar difungsikan sebagai area parkir, lantai satu sebagai ruang utama ibadah, sementara lantai dua dimanfaatkan untuk kegiatan pendidikan Al-Qur’an dan Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA).

Renovasi Masjid Jamik Surau Gadang melibatkan peran aktif tokoh adat dan masyarakat. Ketua pelaksana pembangunan, Syahrizal Dt. Palang Gagah, yang juga menjabat Ketua LKAAM Kota Bukittinggi, dipercaya memimpin proses renovasi bersama pengurus masjid.

Pendanaan pembangunan bersumber dari wakaf jamaah, donasi perantau, dana CSR, serta dukungan pemerintah. Pada Februari 2023, BKMT Bukittinggi turut berpartisipasi dengan menggalang wakaf lebih dari Rp33 juta untuk pengecoran lantai atas, menegaskan kuatnya semangat gotong royong masyarakat.

Meski menggunakan struktur beton dan material modern demi ketahanan bangunan, Masjid Jamik Surau Gadang tetap mempertahankan atap tumpang tiga khas Minangkabau serta menara segi delapan yang menambah nuansa arsitektur Nusantara. Bangunan ini ditopang oleh 25 tiang utama, yang melambangkan 25 nabi dalam Islam, memperkuat makna simbolis dan spiritual masjid.

Mihrab dan mimbar juga didesain dengan detail yang mencerminkan keseimbangan antara nilai estetika, tradisi, dan fungsi modern.

Sejak rampung pada akhir 2024, Masjid Jamik Surau Gadang kembali aktif sebagai pusat ibadah, kajian keislaman, dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Pemerintah Kota Bukittinggi di bawah kepemimpinan Wali Kota Ramlan Nurmatias mendorong masjid ini sebagai bagian dari program “Surau Gemilang”, yakni masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan aktivitas positif masyarakat, termasuk penyediaan akses Wi-Fi gratis bagi generasi muda.

Dengan kapasitas yang lebih luas dan fungsi yang beragam, Masjid Jamik Surau Gadang kini menjadi salah satu ikon religi dan budaya di Kota Bukittinggi, menarik jamaah lokal maupun pengunjung dari berbagai daerah.

Masjid Jamik Surau Gadang tercatat sebagai satu dari delapan masjid jamik bersejarah di Bukittinggi, bersama masjid-masjid tua lainnya di kawasan Tarok dan Tigo Baleh. Letaknya yang berdekatan dengan makam Tuanku Kurai dan area persawahan semakin menegaskan keterkaitan antara agama, adat, dan kehidupan agraris masyarakat Minangkabau.

Masjid ini tidak hanya menjadi situs sejarah, tetapi juga ruang hidup yang merepresentasikan identitas Minangkabau—tempat ibadah, pendidikan, kebersamaan, dan solidaritas sosial. Bagi generasi muda, Masjid Jamik Surau Gadang menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak hanya dijaga melalui bangunan, tetapi juga melalui nilai gotong royong, inovasi, dan komitmen menjaga iman serta tradisi di tengah perubahan zaman.(ER)

 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....