Kuburan Cino Bukik Ambacang, Jejak Sejarah Tionghoa Bukittinggi
- 04 Feb 2026 14:07 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi — Pemakaman Tionghoa yang dikenal masyarakat setempat sebagai Kuburan Cino di kawasan Bukik Ambacang, Bukittinggi, menjadi salah satu situs sejarah yang merepresentasikan keberadaan komunitas Tionghoa di kota tersebut pada masa lalu. Keberadaan pemakaman ini menandai jejak kehidupan warga Tionghoa yang pernah bermukim dan beraktivitas di wilayah pedalaman Minangkabau.
Secara geografis, kompleks pemakaman ini terletak di kawasan perbukitan, sejalan dengan tradisi dan prinsip fengshui atau geomansi Tionghoa. Dalam kepercayaan tersebut, lokasi pemakaman yang berada di dataran tinggi diyakini membawa keseimbangan alam serta keberkahan bagi keturunan yang ditinggalkan. Pemilihan Bukik Ambacang sebagai lokasi pemakaman mencerminkan kuatnya pengaruh tradisi leluhur dalam kehidupan masyarakat Tionghoa.
Dari segi fisik, makam-makam di Kuburan Cino Bukik Ambacang memiliki ciri khas yang mudah dikenali. Sebagian besar berbentuk setengah lingkaran, menyerupai gundukan atau bong, dengan struktur yang tersusun dari bata dan dilapisi plester. Bentuk ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda makam, tetapi juga sebagai simbol perlindungan dan penghormatan terhadap arwah leluhur.
Menariknya, banyak makam di kompleks ini berukuran relatif besar. Hal tersebut disebabkan oleh fungsi satu makam untuk pasangan suami istri, sebuah tradisi yang mencerminkan ikatan keluarga yang tetap dipersatukan hingga setelah wafat. Ukuran dan bentuk makam juga kerap mencerminkan status sosial keluarga pada masanya.
Dalam konteks sejarah, pemakaman Tionghoa di Bukik Ambacang diperkirakan berasal dari masa kolonial hingga awal abad ke-20, sekitar tahun 1800-an hingga 1940-an. Keberadaannya berkaitan erat dengan aktivitas warga Tionghoa yang berperan sebagai pedagang, pengusaha, atau perantara ekonomi di Bukittinggi dan wilayah sekitarnya, yang pada masa itu merupakan pusat perdagangan penting di Sumatra Barat.
Hingga kini, Kuburan Cino Bukik Ambacang tidak hanya berfungsi sebagai tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga sebagai situs sejarah dan budaya. Kompleks pemakaman ini menjadi pengingat akan keberagaman etnis dan peran komunitas Tionghoa dalam perjalanan sejarah Bukittinggi.
Sebagai bagian dari warisan sejarah kota, keberadaan pemakaman ini penting untuk dijaga dan dipahami, agar generasi muda dapat mengenal lebih jauh dinamika sosial dan budaya yang pernah membentuk Bukittinggi sebagai kota multikultural di masa lampau.(ER)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....