Inyiak Canduang, Ulama Minangkabau Penjaga Harmoni Adat Syariat
- 04 Feb 2026 11:43 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Nama Inyiak Canduang tercatat sebagai salah satu ulama besar Minangkabau yang memberi pengaruh mendalam terhadap kehidupan keagamaan, pendidikan, dan sosial masyarakat Sumatra Barat. Ulama yang memiliki nama asli Syekh Sulaiman Ar-Rasuli ini lahir pada tahun 1871 dan wafat pada 1 Agustus 1970 dalam usia 99 tahun.
Sebutan “Inyiak” merupakan gelar kehormatan bagi ulama di Minangkabau, setara dengan sebutan kiai di Pulau Jawa. Sementara itu, “Canduang” merujuk pada nagari tempat kelahirannya di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, yang hingga kini menjadi pusat warisan perjuangannya.
Dalam bidang pendidikan, Inyiak Canduang menimba ilmu agama di Makkah pada periode 1903 hingga 1907. Di Tanah Suci, ia berguru kepada sejumlah ulama besar, di antaranya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seorang imam dan ulama terkemuka di Masjidil Haram. Bekal keilmuan inilah yang kemudian ia bawa pulang untuk membangun pendidikan Islam di tanah Minang.
Pada tahun 1928, Inyiak Canduang mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang, sebuah lembaga pendidikan yang menjadi tonggak pembaruan sistem pengajaran Islam. Ia mengubah metode tradisional halaqah menjadi sistem kelas modern tanpa meninggalkan nilai-nilai keilmuan klasik. Dari MTI Canduang, lahir banyak ulama dan cendekiawan yang berperan penting di tingkat lokal maupun nasional.
| Baca juga: Mengurai Akar Pekat di Pesisir Selatan |
Tak hanya itu, Inyiak Canduang juga dikenal sebagai pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), organisasi yang menjadi wadah perjuangan ulama Kaum Tua dalam menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia.
Dalam kehidupan sosial budaya, Inyiak Canduang mempopulerkan falsafah Minangkabau yang hingga kini menjadi pegangan masyarakat, yakni “Adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”—adat bersendi syariat, dan syariat bersendi Al-Qur’an. Prinsip ini menjadi fondasi dalam menyelaraskan nilai adat dan ajaran Islam.
Selain sebagai ulama dan pendidik, Inyiak Canduang juga aktif dalam perjuangan kebangsaan. Ia pernah memimpin Syarikat Islam cabang Canduang Baso serta terlibat dalam dinamika politik nasional dengan menjabat sebagai anggota Badan Konstituante pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Inyiak Canduang wafat pada 1 Agustus 1970 dan dimakamkan di kompleks MTI Canduang, tempat yang menjadi saksi dedikasi dan pengabdiannya sepanjang hayat. Hingga kini, pemikiran dan perjuangannya tetap hidup, menjadi warisan berharga bagi umat Islam dan masyarakat Minangkabau.(ER)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....