Menjemput Islam Yang Utuh di Kota Perlintasan

  • 01 Feb 2026 18:07 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Payakumbuh - Di tengah riuhnya arus kendaraan yang membelah Kota Payakumbuh, suasana khidmat menyelimuti Masjid Ansharullah pada Minggu pagi (1/2/2026). Para jemaah tampak menyimak dengan saksama untaian pesan dari Buya Drs. H. Hamidi Labai Sati, mubalig senior Muhammadiyah asal Padang Panjang, yang hadir membawa oase ilmu di tengah dinamika zaman.

Acara dibuka dengan muqaddimah dari Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Payakumbuh, Ustadz Dr.H.Irwandi Nashir. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Pengajian Daerah yang digelar rutin sebulan sekali ini memiliki esensi yang lebih dalam dari sekadar pertemuan fisik.

"Pengajian ini bukan hanya sarana silaturahim, tetapi momentum untuk menyegarkan kembali jiwa dan menambah wawasan kita tentang bagaimana bermuhammadiyah yang benar," ujar Ustadz Irwandi. 

Ia berharap, setiap pulang dari pengajian, jemaah membawa "bekal" baru untuk diterapkan dalam kehidupan sosial.

Ideologi dan Wawasan Organisasi

Sebelum memasuki materi inti, suasana pengajian diperkaya dengan pencerahan tentang Wawasan Organisasi dan Ideologi Muhammadiyah yang disampaikan oleh Ustadz Drs. H. Ashril Samsu. Sebagai mantan Ketua PDM Payakumbuh, Ustadz Ashril mengingatkan pentingnya memahami khitah perjuangan organisasi agar gerak langkah warga persyarikatan tetap berada di rel yang tepat.

Pencerahan ideologi ini menjadi jembatan bagi materi utama yang dibedah Buya Hamidi Labai Sati mengenai konsep Islam Kaffah. Menurut Buya Hamidi, berislam secara menyeluruh bukan sekadar jargon, melainkan integrasi dari tiga pilar: akidah yang benar, ibadah yang tertib, dan akhlak yang mulia.

Konsep ini berpijak kuat pada mandat Ilahi dalam Surah Al-Baqarah ayat 208:

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”

Akidah: Jangkar Para Pejuang

Buya Hamidi mencontohkan bahwa akidah yang kuat adalah kunci keberhasilan tokoh-tokoh Muhammadiyah lintas generasi dalam memikul amanah dakwah. Dari KH Ahmad Dahlan hingga Buya Hamka, sejarah membuktikan bahwa ketauhidan yang murni membuat mereka tak gentar menghadapi tantangan zaman. "Mereka tidak lagi mencari rida manusia, melainkan semata-mata rida Allah," ungkap Buya Hamidi.

Ibadah yang Tertib dan Berilmu

Manifestasi akidah tersebut kemudian dituangkan dalam ibadah yang benar. Di sinilah peran Muhammadiyah melalui lembaga Tarjih menjadi krusial. Tarjih terus menggali hukum Islam agar umat beribadah berdasarkan tuntunan yang kuat, bukan sekadar ikut-ikutan (taklid). "Ibadah yang tertib dan berdasar ilmu akan menjauhkan umat dari keraguan dan menciptakan kedisiplinan berlandaskan tauhid," tegas Buya Hamidi yang pernah menjadi Ketua DPRD kota Padangpanjang itu. 

Akhlak: Muara dari Kesalehan

Pada akhirnya, Buya Hamidi menekankan bahwa akidah yang selamat dan ibadah yang benar harus bermuara pada lahirnya akhlak yang mulia. Tanpa akhlak, ibadah hanya menjadi rutinitas fisik yang kering.

"Islam yang kaffah itu tampak pada kejujuran di pasar, integritas dalam memimpin, dan keramahan kepada sesama. Itulah wajah Islam sebagai rahmat," pungkasnya.

Melalui pengajian ini, warga Muhammadiyah Payakumbuh kembali diingatkan bahwa keberagamaan yang utuh adalah keseimbangan antara keteguhan prinsip (akidah), ketertiban ritual (ibadah), dan kemuliaan perilaku (akhlak). Sebuah pesan substantif yang melampaui sekat-sekat seremonial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....