Aktivasi Rumah Puisi Dorong Kreativitas dan Budaya Nasional

  • 24 Jan 2026 20:48 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Peresmian dan Aktivasi Rumah Puisi Taufiq Ismail digelar Sabtu, 24 Januari 2026, menghadirkan sastrawan nasional Taufiq Ismail. Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Dr. Fadli Zon meresmikan ruang publik tersebut sebagai langkah menjawab rabun membaca dan pincang menulis secara nyata.

Acara berlangsung dua hari, hari pertama untuk peresmian, hari kedua diisi workshop, lomba baca puisi, dan bedah buku. Kegiatan ini membangun ekosistem sastra yang hidup, inklusif, serta memperkuat literasi masyarakat dari berbagai lapisan.

Kegiatan dihadiri pejabat penting, antara lain Direktur Sarana Prasarana Kebudayaan Dr. Ir. Feri Arlius, M.Sc, serta Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya Yayuk Sri Budi Rahayu. Hadir juga Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Asisten I Pemkot Padang Panjang, serta Rektor ISI Padangpanjang.

Selain itu, hadir para kepala daerah kabupaten dan kota, pimpinan perangkat daerah, pimpinan perguruan tinggi, serta unsur Forkopimda dan instansi vertikal. Kehadiran para Ninik Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai, dan Bundo Kanduang menambah khidmat suasana peresmian.

Para sastrawan, seniman, akademisi, pegiat literasi, pimpinan komunitas seni, dan seluruh rekan media juga turut hadir meramaikan acara. Kegiatan ditutup dengan tradisi makan bajamba sebagai simbol persatuan dan kebersamaan budaya Minangkabau.

Taufiq Ismail hadir memberi inspirasi bahwa sastra bukan sekadar sejarah, tetapi kekuatan hidup yang relevan bagi generasi saat ini. Puisinya menjadi simbol keberanian berpikir, kepekaan nurani, serta kecintaan mendalam terhadap bahasa dan bangsa.

Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan menegaskan Rumah Puisi adalah bentuk penghormatan negara atas jejak intelektual seorang penyair besar Indonesia. Kata-kata memiliki daya membentuk karakter, kesadaran, dan peradaban bangsa secara berkelanjutan, tegasnya.

Rumah Puisi Taufiq Ismail dirancang sebagai cultural enclave modern dan inklusif, menjaga nilai bahasa serta memori kolektif bangsa. Tempat ini juga mendorong kreativitas, diskusi intelektual, serta partisipasi publik secara aktif setiap hari bagi siapa pun.

Tema “Menjawab Rabun Membaca, Pincang Menulis” menjadi kritik sekaligus ajakan agar literasi dipahami sebagai praktik kebudayaan yang hidup. Sastra diharapkan membangun kedalaman berpikir, karakter, dan kesadaran kritis masyarakat luas di era modern.

Peresmian dan rangkaian kegiatan menjadikan Rumah Puisi Taufiq Ismail serta Museum Sastra Indonesia simpul kebudayaan yang terus hidup. Ruang ini diharapkan memberi makna bagi masyarakat, dunia sastra, dan masa depan kebudayaan Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....