BMKG Minangkabau Tanggapi Fenomena "Kemarau Basah" Sumatera Barat

  • 18 Jun 2025 14:34 WIB
  •  Bukittinggi

KBRN, Padang Pariaman: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandara Intenasional Minangkabau (BIM) Padang Pariaman angkat suara perihal fenomena istilah “Kemarau Basah” yang santer dikabarkan melalui sosial media hingga media nasional.

Kepala BMKG Stasiun BIM Padang Pariaman Desindra Deddy Kurniawan kepada RRI Bukittinggi mengatakan, bahwa fenomena “Kemarau Basah” itu disampaikan guna memudahkan masyarakat untuk memahami pada saat memasuki musim kemarau masih sering terjadinya hujan.

Bahkan Kepala BMKG Stasiun BIM Padang Pariaman mengakui, saat ini fenomena “Kemarau Basah” di Sumatera Barat belum terjadi lantaran masih memasuki fase awal Kemarau yang sudah terjadi pada akhir bulan Mei hingga pertengahan Juni saat ini.

“Artinya itu lumrah dan merupakan fenomena yang biasa, itu terjadi karena ada faktor-faktor pendukungnya,” terang Desindra Deddy saat dihubungi melalui sambungan telefon, Rabu (18/6/2025) siang.

Kepala BMKG Stasiun BIM Padang Pariaman Desindra Deddy menuturkan, meskipun masih dalam fase awal kemarau jika tetap terjadi hujan saat ini belum dikatakan sebagai fenomena “Kemarau Basah” di Sumatera Barat. Pasalnya menurut Desindra Deddy, hujan yang sifatnya harian belum dapat menjadi patokan dalam rentang waktu satu atau dua hari terjadinya hujan. Namun intensitasnya setelah diukur masih dibawah 50 mm, dimana dalam pandangannya masih belum memenuhi kategori sebagai curah hujan lebat.

“Kecuali Juli Agustus itu misalnya hujannya masih masif baru bisa dikatakan sebagai Kemarau Basah,” sambung Kepala BMKG Stasiun BIM Padang Pariaman.

Menurut Desindra Deddy, faktor pendukung belum terjadinya fenomena “Kemarau Basah” cukup beragam seperti faktor global regional hingga lokal. Misalnya dalam faktor global seperti La Nina yang masih aktif, kemudian adanya IOD (Indiana Ocean Dipole) serta MJO (Madden Julian Oscillation) untuk faktor regional.

Sehingga menurut analisis BMKG Stasiun BIM Padang Pariaman, Desindra Deddy bersama jajaran menemukan bahwa kondisi La Nina masih dalam kondisi netral serta faktor MJO yang tidak berpengaruh. Karena pada saat ini MJO dalam fase netral yang memiliki periode siklus 30-60 hari.

“Kemudian yang dominan itu adanya pola angin itu yang dominan di Sumatera Barat, ada belokan dan konvergensi, ditambah lagi Suhu Muka Laut (SML) yang masih hangat. Sehingga ini menjadi bahan baku untuk pembentukan awan-awan hujan, dan awan-awan hujan itu menjadi masif sehingga kita merasakan hujan dari pagi siang dan malam,” sambung Desindra Deddy Kurniawan.

Diketahui, BMKG Stasiun BIM Padang Pariaman tercatat menemukan fenomena “Kemarau Basah” di sepanjang 2024 terjadi di seluruh wilayah Sumatera Barat. Dimana fenomena “Kemarau Basah” terjadi pada rentang waktu bulan Mei hingga pertengahan Oktober 2024.

Selain itu, BMKG pusat baru-baru ini menyebutkan bahwa sebagian wilayah Indonesia saat ini mengalami kemarau basah, yaitu kondisi hujan masih turun meski telah memasuki musim kemarau. Fenomena ini diperkirakan berlangsung hingga Agustus 2025, diikuti masa transisi (pancaroba) pada September–November, dan musim hujan mulai Desember 2025 hingga Februari 2026.

Sebanyak 403 Zona Musim (ZOM) atau 57,7% wilayah diprediksi mulai kemarau pada April–Juni 2025, dengan Nusa Tenggara mengalami kemarau lebih awal. Secara umum, awal musim kemarau 2025 tergolong normal hingga lebih lambat dibanding rata-rata, mencakup 409 ZOM (59%).

Akumulasi curah hujan selama musim kemarau diperkirakan normal di sebagian besar wilayah. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2025, dengan waktu puncak yang cenderung sama atau lebih awal dari biasanya. Sementara itu, durasi musim kemarau 2025 diprediksi lebih pendek dari normal di 298 ZOM (43%). (ALW/RRI BKT)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....