Tradisi Bakua Adat di Nagari Sijunjung Warisan Budaya yang Menguatkan Silaturahmi

  • 28 Apr 2025 13:49 WIB
  •  Bukittinggi

KBRN RRI : Nagari Sijunjung, yang terletak di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, merupakan salah satu nagari tua yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang masih terjaga hingga kini. Berdiri sejak abad ke-16 Masehi, nagari ini dikenal dengan struktur adatnya yang unik serta tradisi-tradisi khas Minangkabau yang sarat makna. Salah satu tradisi adat yang masih dilestarikan dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakatnya adalah Tradisi Bakua Adat.

Dalam sistem adat Nagari Sijunjung, dikenal empat tingkatan perkembangan nagari yang disebut Nagari Nan Ampek, yaitu:

Bataratak – Tahap awal dari pembentukan sebuah perkampungan.

Badusun – Tingkatan berikutnya, menandakan tumbuhnya masyarakat yang mulai menetap.

Bakoto – Menunjukkan masyarakat yang telah memiliki struktur sosial dan kepemimpinan adat.

Banagari – Tingkatan tertinggi, di mana wilayah tersebut telah resmi menjadi nagari yang berdaulat secara adat.

Nagari Sijunjung sendiri terdiri dari empat koto, masing-masing dipimpin oleh pemuka adat yang bergelar “Datuak”:

Koto Bukik Sosaik, dipimpin oleh Datuak Bandaro Sati

Koto Gunung Medan, dipimpin oleh Datuak Tan Mantari

Koto Danau, dipimpin oleh Datuak Lubuk Bayo

Koto Bukik Kunik, dipimpin oleh Datuak Pamatang Sati

Dalam bahasa Minangkabau, “Bakaua” berarti berkumpul, dan “Adat” berarti kebiasaan atau tradisi. Maka, Tradisi Bakua Adat dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan berkumpul dalam bingkai adat, yang bertujuan untuk menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen dan rezeki yang diperoleh dari alam.

Persiapan acara ini diawali dengan pemberitahuan kepada seluruh warga, biasanya dilakukan oleh pemuka adat atau tokoh masyarakat. Seluruh kegiatan berlangsung di Los Tabek, sebuah balai adat tempat berkumpulnya warga dan tokoh masyarakat. Acara ini dihadiri oleh berbagai unsur penting dalam kehidupan sosial Minangkabau, seperti:

Ninik Mamak (pemangku adat)

Alim Ulama

Cadiak Pandai (cerdik pandai)

Bundo Kanduang (perempuan pemangku adat)

Bupati dan Pemerintah Kabupaten Sijunjung

Wali Nagari dan perangkat nagari

Tradisi ini dibuka dengan prosesi bararak (berarak) dari perkampungan menuju Los Tabek. Dalam arak-arakan ini, Bundo Kanduang membawa dulang (nampan) di atas kepala dalam tradisi yang disebut "manjujuang dulang". Dulang tersebut berisi nasi, lauk pauk, dan buah-buahan yang telah disiapkan dengan tangan sendiri, sebagai bentuk syukur dan pengabdian.

Setibanya di Los Tabek, seluruh peserta akan duduk bersama. Acara dimulai dengan pembukaan oleh pemuka adat, yang berisi doa dan petatah-petitih—nasihat adat yang mengandung nilai luhur. Setelah itu, dilakukan musyawarah sebagai bagian dari budaya mufakat yang sangat dijunjung tinggi dalam adat Minangkabau.

Puncak acara ditandai dengan "Makan Bajamba", yaitu makan bersama dengan satu nampan untuk beberapa orang. Ini adalah lambang kebersamaan, kesetaraan, dan solidaritas antarwarga. Makanan yang dimakan adalah isi dari dulang yang dibawa saat bararak, sebagai simbol berbagi rezeki dan saling menghargai.

Tradisi Bakua Adat bukan hanya seremoni adat biasa, melainkan manifestasi nyata dari nilai-nilai luhur masyarakat Minangkabau: gotong royong, kebersamaan, dan syukur kepada Sang Pencipta. Melalui tradisi ini, Nagari Sijunjung tidak hanya menjaga identitas budayanya, tetapi juga memperkuat tali silaturahmi antarwarga dalam bingkai adat dan agama. (ER)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....